Wednesday, January 1, 2014

Teman Bejatku



Teman Bejatku
Oleh: M N Sholachuddin

Sebenarnya aku  muak melihat ulah mereka. Merokok, pacaran, berkata kotor, hingga balap liar. Namun tanpa mereka, aku sepertinya tidak punya teman lagi. Aku memang bukan orang baru di daerah ini. Sudah banyak juga orang-orang sebayaku yang aku kenal. Tapi entah kenapa aku masih saja dekat dengan teman-teman bejatku.
Namaku Rio, dan sekarang Aku kelas 3 SMP. Mungkin normalnya anak seusiaku harusnya fokus ke Ujian Nasional. Namun 4 teman bejatku ini tak memerdulikan hal itu. Tak ada masa depan di dalam pikiran mereka. Mereka bukan dari keluarga Broken Home. Mungkin cuma karena kurang mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Pantas saja, karena diantara mereka hanya akulah yang anak tunggal.
“Uhuk…uhuk… Woy, kalo ngrokok jangan diadepin dong!” bentaku pada Resa yang asyik menyemburkan asap hitam dari hidungnya. Sambil memegang sebatang rokok Djarum dia menatapku dengan tajam.
“Yaelah, laki-laki kok gak ngrokok. Banci bro.” Begitulah ejeknya. Aku memang bukan perokok. Meskipun kumpulanku perokok, tapi aku tak berani menyentuh batang racun itu. Ayahku saja tidak merokok, kenapa Aku harus merokok?
Di warung ini Aku bisaa nongkrong bareng Resa, Anton, Tian, dan Adi. Tak seperti biasanya, hari ini Adi tidak ada disini. Sudah Aku SMS berkali-kali, namun tanpa balasan. Mungkin dia tidak punya pulsa. Mau gimana lagi? Setiap hari uangnya dia habiskan untuk membeli 3 batang rokok. Pantas saja HPnya sering hampa pulsa.
“Adi  kemana bro? Kok belum nongol?” Celetuk Anton sambil menghisap rokok yang sama dengan Resa.
“Palingan masih ngebo, inikan masih jam 8 . Biasanya dia kesini jam setengah 9 kan.”Jawab Tian sambil otak-atik motornya. Tian memang paling hobi sama motor. Meskipun dia agak gendut, tapi dia joki balap liar yang sudah banyak dikenal joki di kota ini. Dia sering menang taruhan. Masuk kamar tahan hingga masuk kamar besuk pernah dia alami. Namun tak ada yang membuatnya kapok.
Lama kami berdebat, tak terasa sudah jam 11 siang. Karena ini hari Jum’at, aku segera pulang untuk mandi dan ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat Jum’at. Tapi seperti biasa, teman-teman masih nongkrong di warung itu. Namun hingga saat ini si Adi belum nongol juga. Ah..Sudahlah.! kenapa aku harus memikirkan hal ini? Lebih baik ku sempurnakan ibadahku dulu pada Allah.
***
            Liburan semester ini cuma aku habiskan dengan kumpul bareng teman-teman bejatku itu. Kalau mereka pada beli rokok, aku hanya membeli jajanan, gorengan, dan es plastik saja. Tapi sudah 5 hari ini Adi tidak ikut nongkrong bareng kami. Ternyata selama ini Adi dirawat di puskesmas desa kami. Kata Resa si Adi terkena penyakit liver. Entah apa penyakit liver itu, aku kurang tahu. Resa, Anton, dan Tian juga tak tahu. Kabar ini berhembus dari tetangga si Adi. Setahuku liver ini sejenis penyakit hati. Tapi Resa bilang itu penyakit jantung. Kami tidak tahu pasti. Yang jelas nanti sore kami berencana untuk menjenguk Adi.
***
            Gelap dan terang. Ini pertama kalinya aku masuk rumah sakit. Sepertinya tempat ini kurang penerangan. Bukan kurang, tapi lampu-lampu disini kurang tertata rapi, sehingga tempat ini terkesan remang-remang. Anton tidak bisa ikut kali ini katanya ada pertandingan futsal hari ini. Akhirnya bersama Resa dan Tian kutelusuri lorong-lorong puskesmas ini. Mungkin ini puskesmas. Tetapi tempat ini cukup besar untuk menampung kurang lebih 500 spesies jenis Tian.
            Akhirnya  kutemukan ruang Cempaka Putih. Kami mulai beranjak masuk kedalam dan langsung disuguhi pemandangan bale yang kosong. Memang disetiap kamar terdapat 2 buah bale atau ranjang. Dan ternyata Adi berada di bale disebelah yang  tertutup tirai.
            “Assalamu’alaikum,” Tian mengucapkan salam terlebih dahulu. Dalam pikiranku aku agak kagum. Ternyata dia bisa mengucapkan salam juga. Aku kira di hanya bisa berkata kotor saja.
            “wa’alaikumussalam…Wah, Rio, Resa, Tian. Itu lho teman-temanmu datang.” Begitulah sambut Ibu Adi ketika kami datang. Alangkah bahagianya Ibunya Adi ketika kami datang. Kami memang tak memberi dengan kata lain kami datang hanya sekedar untuk menjenguk dan mendo’akannya agar lekas sembuh.
            Sungguh mataku terbelalak melihat kondisi Adi yang lemah dan ada infus ditangannya. Antara tak tega dan benci melihatnya. Aku merasa iba melihatnya. Seperti tulang            terbungkus kulit. Benar-benar kurus seperti mayat yang bisa tersenyum kearah kami. Rambutnya yang gondrong dan mukanya yang kotor. Kami pun duduk dibawah ranjang Adi bersama ibunya. Ibunya mulai menceritakan keadaannya kepada kami.
            Katanya Jum’at pagi setelah bangun tidur Adi mengeluh dadanya sakit. Karena waktu itu ayahnya disawah, terpaksa ibunya memboncengkan Adi ke puskesmas. Ibunya bercerita sambil menangis. Ibu mana yang tega melihat anaknya sakit. Seburuk-buruknya anak, pasti Ibunya tetap menyayanginya.
            Ibunya melanjutkan ceritanya. Kata dokter Adi mengidap penyakit liver. Hatinya terkena penyakit karena terlalu banyak menghisap batang racun. Bayangkan saja, tiga batang perhari. Berarti satu bulan dia menghabiskan 90 batang rokok yang mengandung racun. Betapa bodohnya Adi yang merusak masa depannya sendiri.
            Setelah Ibunya bercerita banyak, kami pun berdiri menghampiri Adi. Kami mendekati Adi dengan wajah santai, kemudian Resa memulai pembicaraan.
            “Bagaimana kabarmu, Di?”
            “Yah…yang seperti Ibuku bilang tadi. Adi menjawab lemas tetapi tetap tersenyum.
            “Ayo cepat sembuh Bro, terus kita balapan lagi.” Lalu kami menjitak kepala Tian. Tian memang kurang ajar. Mungkin dia memang mencoba menghibur. Tapi  itu keterlaluan menurutku. Aku saja yang membenci Adi tidak seterus terang itu.
            “Bro...” Ujar Adi mencegah kegaduhan kami, kami pun terhentak melihat kearahnya.
            “Maafin semua salahku ya.’Lanjut Adi sambil tersenyum manis. Benar-benar itu senyum termanis yang pernah dilemparkannya kepadaku. Sampai-sampai mataku berkaca-kaca. Namun ini bukan saat terakhir aku melihatnya. Aku yakin, dia masih kelihatan segar bugar. Kami hanya bisa mengucapkan “Ya” dan “Tidak apa-apa”, kemudian Adi melanjutkan perkataannya.
            “Selamat untuk kalian teman-temanku. Kalian masih diberi kesehatan dan umur panjang. Tidak sepertiku.”
            “Jangan beekata seperti itu Di, kamu pasti sembuh kok,” Ujar Resa seraya tersenyum. Matanya juga berkaca-kaca sama sepertiku. Sesekali dia mengalihkan pandangan ke Ibunya Adi. Ternyata Ibu Adi sudah tidak ada di ruangan tempat Adi dirawat.  Mungkin ke kamar mandi.
            “Kalau saja aku dapat mengulang waktu, aku tak akan berani menyentuh rokok. Seperti Rio. Aku kagum denganmu yo.” Aku kaget dan juga tersenyum. Ternyata Adi kagum denganku. Aku tak menyangka. Ternyata dalam penyesalannya karena rokok, dia memikirkan betapa beruntungnya aku. “Subanallah” “Alhamdulillah” aku benar-benar bersyukur. Ternyata inilah hikmah dibalik hinaan sebagai banci yang tidak berani merokok. Kini aku merasa beruntung diantara teman-temanku.
            “Kalau aku jadi kalian, aku pasti berubah. Aku tak akan maksiat, tak akan merokok, rajin sholat. Tap apa daya sekarang.” Lanjut Adi dengan serius.
***
            Beberapa menit berlalu, aku pulang  bersama teman-temanku. Tak kusangka ternyata Tian memberikan amplop kepada Ibunya Adi. Anehnya dia bilang itu dari kami. Aku bertanya kepadanya,
            “Hey, dari mana kamu dapat uang itu?”
            “Semalam menang lagi bro,” Jawabnya tanpa dosa.
            “Astaghfirullah. Hey, itu uang haram. Sama saja kau membunuh Adi. Dasar bodoh !”
            “Bajingan! Dari pada kau tak memberi apapun !” bantah Tian kepadaku.
            “Terserah apa katamu! Aku muak melihatmu!” Teriaku marah pada Tian. Resa hanya diam saja. Kemudian aku pergi meninggalkan mereka berdua. Dan aku pun pulang kerumah.
***
            Dingin masih kurasakan. Mataku masih terpejam. Namun ragaku sudah mulai sadar. Aku terbangun  karena mendengar suara dari speaker masjid. Memang tak jelas kedengarannya karena aku masih setengah sadar hanya mendengar sayup-sayup tak jelas. Tiba-tiba Ibuku menghampiriku.
            “Nak, itu lho Adi meninggal dunia.”
            “Haa?? Innalillahi Wainna Illaihi Roji’un.” Ucapku terkejut mendengar apa yang di katakan Ibuku.
            Aku kembali bersandar diranjang tempat tidurku mendapati tak kepercayaanku bahwa Adi telah tiada di dunia ini. Aku menutupi wajahku dengan bantal. Termenung aku saaat itu. Tak ku sangka kemarin adalah hari terakhir aku berjumpa dengannya.
            Aku tak kuasa menahan air  mata, meratapi kenyataan bahwa Adi telah tiada. Ia yang biasanya hidup, tapi kini ia telah mati. Sungguh menyesal pasti dirinya. Sungguh aku adalah orang yang beruntung karena jauh dari rokok.

No comments:

Post a Comment