Teman
Bejatku
Oleh:
M N Sholachuddin
Sebenarnya
aku muak melihat ulah mereka. Merokok,
pacaran, berkata kotor, hingga balap liar. Namun tanpa mereka, aku sepertinya
tidak punya teman lagi. Aku memang bukan orang baru di daerah ini. Sudah banyak
juga orang-orang sebayaku yang aku
kenal. Tapi entah kenapa aku
masih saja dekat dengan teman-teman bejatku.
Namaku
Rio, dan sekarang Aku kelas 3 SMP. Mungkin normalnya anak seusiaku harusnya fokus
ke Ujian Nasional. Namun 4 teman bejatku ini tak memerdulikan hal itu. Tak ada
masa depan di dalam
pikiran mereka. Mereka bukan dari keluarga Broken
Home. Mungkin cuma karena kurang mendapat kasih sayang dari orang tuanya.
Pantas saja, karena diantara mereka hanya akulah yang anak tunggal.
“Uhuk…uhuk…
Woy, kalo ngrokok jangan diadepin dong!” bentaku pada Resa yang asyik
menyemburkan asap hitam dari hidungnya. Sambil memegang sebatang rokok Djarum
dia menatapku dengan tajam.
“Yaelah,
laki-laki kok gak ngrokok. Banci bro.” Begitulah ejeknya. Aku memang bukan
perokok. Meskipun kumpulanku perokok, tapi aku tak berani menyentuh batang
racun itu. Ayahku saja tidak merokok, kenapa Aku harus merokok?
Di
warung ini Aku bisaa nongkrong bareng Resa, Anton, Tian, dan Adi. Tak seperti biasanya, hari ini Adi tidak
ada disini. Sudah Aku SMS berkali-kali, namun tanpa balasan. Mungkin dia tidak
punya pulsa. Mau gimana lagi? Setiap hari uangnya dia habiskan untuk membeli 3
batang rokok. Pantas saja HPnya sering hampa pulsa.
“Adi kemana bro? Kok belum nongol?” Celetuk Anton sambil menghisap
rokok yang sama dengan Resa.
“Palingan
masih ngebo, inikan masih
jam 8 . Biasanya
dia kesini jam setengah 9 kan.”Jawab Tian sambil otak-atik motornya. Tian
memang paling hobi sama motor. Meskipun dia agak gendut, tapi dia joki balap
liar yang sudah banyak dikenal joki di kota ini. Dia sering menang taruhan.
Masuk kamar tahan hingga masuk kamar besuk pernah dia alami. Namun tak ada yang
membuatnya kapok.
Lama
kami berdebat, tak terasa sudah jam 11 siang. Karena ini hari Jum’at, aku
segera pulang untuk mandi dan ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat Jum’at.
Tapi seperti biasa, teman-teman masih nongkrong di warung itu. Namun
hingga saat ini si Adi belum nongol juga. Ah..Sudahlah.! kenapa aku harus
memikirkan hal ini? Lebih baik ku sempurnakan ibadahku dulu pada Allah.
***
Liburan semester ini cuma aku habiskan dengan
kumpul bareng teman-teman bejatku itu. Kalau mereka pada beli rokok, aku hanya
membeli jajanan, gorengan, dan es plastik saja. Tapi sudah 5 hari ini Adi tidak ikut
nongkrong bareng kami. Ternyata selama ini Adi dirawat di puskesmas desa kami.
Kata Resa si Adi terkena penyakit liver. Entah apa penyakit liver itu, aku
kurang tahu. Resa, Anton, dan Tian juga tak tahu. Kabar ini berhembus dari
tetangga si Adi. Setahuku liver ini sejenis penyakit hati. Tapi Resa bilang itu
penyakit jantung. Kami tidak tahu pasti. Yang jelas nanti sore kami berencana
untuk menjenguk Adi.
***
Gelap dan terang. Ini pertama
kalinya aku masuk rumah sakit. Sepertinya tempat ini kurang penerangan. Bukan
kurang, tapi lampu-lampu disini kurang tertata rapi, sehingga tempat ini
terkesan remang-remang. Anton tidak bisa ikut kali ini katanya ada pertandingan
futsal hari ini. Akhirnya bersama Resa dan Tian kutelusuri lorong-lorong puskesmas
ini. Mungkin ini puskesmas. Tetapi tempat ini cukup besar untuk menampung
kurang lebih 500 spesies jenis Tian.
Akhirnya kutemukan ruang Cempaka Putih. Kami mulai
beranjak masuk kedalam dan langsung disuguhi pemandangan bale yang kosong.
Memang disetiap kamar terdapat 2 buah bale atau ranjang. Dan ternyata Adi
berada di bale disebelah yang tertutup
tirai.
“Assalamu’alaikum,” Tian mengucapkan salam
terlebih dahulu. Dalam pikiranku aku agak kagum. Ternyata dia bisa mengucapkan
salam juga. Aku kira di hanya bisa berkata kotor saja.
“wa’alaikumussalam…Wah, Rio, Resa,
Tian. Itu lho teman-temanmu datang.” Begitulah sambut Ibu Adi ketika kami
datang. Alangkah bahagianya Ibunya Adi ketika kami datang. Kami memang tak
memberi dengan kata lain kami datang hanya sekedar untuk menjenguk dan
mendo’akannya agar lekas sembuh.
Sungguh mataku terbelalak melihat
kondisi Adi yang lemah dan ada infus ditangannya. Antara tak tega dan benci
melihatnya. Aku merasa iba melihatnya. Seperti tulang terbungkus
kulit. Benar-benar kurus seperti mayat yang bisa tersenyum kearah kami.
Rambutnya yang gondrong dan mukanya yang kotor. Kami pun duduk dibawah ranjang
Adi bersama ibunya. Ibunya mulai menceritakan keadaannya kepada kami.
Katanya Jum’at pagi setelah bangun
tidur Adi mengeluh dadanya sakit. Karena waktu itu ayahnya disawah, terpaksa
ibunya memboncengkan Adi ke puskesmas. Ibunya bercerita sambil menangis. Ibu
mana yang tega melihat anaknya sakit. Seburuk-buruknya anak, pasti Ibunya tetap
menyayanginya.
Ibunya melanjutkan ceritanya. Kata
dokter Adi mengidap penyakit liver. Hatinya terkena penyakit karena terlalu
banyak menghisap batang racun. Bayangkan saja, tiga batang perhari. Berarti
satu bulan dia menghabiskan 90 batang rokok yang mengandung racun. Betapa
bodohnya Adi yang merusak masa depannya sendiri.
Setelah Ibunya bercerita banyak,
kami pun
berdiri menghampiri Adi. Kami mendekati Adi dengan wajah santai, kemudian Resa memulai pembicaraan.
“Bagaimana kabarmu, Di?”
“Yah…yang seperti Ibuku bilang tadi.” Adi menjawab lemas
tetapi tetap tersenyum.
“Ayo cepat sembuh Bro, terus kita balapan
lagi.” Lalu kami menjitak kepala Tian. Tian memang kurang ajar. Mungkin dia
memang mencoba menghibur. Tapi itu
keterlaluan menurutku. Aku saja yang membenci Adi tidak seterus terang itu.
“Bro...” Ujar Adi mencegah
kegaduhan kami, kami pun terhentak
melihat kearahnya.
“Maafin semua salahku ya.’Lanjut Adi
sambil tersenyum manis. Benar-benar itu senyum termanis yang pernah
dilemparkannya kepadaku. Sampai-sampai mataku berkaca-kaca. Namun ini bukan
saat terakhir aku melihatnya. Aku yakin, dia masih kelihatan segar bugar. Kami
hanya bisa mengucapkan “Ya”
dan “Tidak apa-apa”, kemudian
Adi melanjutkan perkataannya.
“Selamat untuk kalian teman-temanku. Kalian
masih diberi kesehatan dan umur panjang. Tidak sepertiku.”
“Jangan beekata seperti itu Di, kamu
pasti sembuh kok,” Ujar
Resa seraya tersenyum. Matanya juga berkaca-kaca sama sepertiku. Sesekali dia
mengalihkan pandangan ke Ibunya Adi. Ternyata Ibu Adi sudah tidak ada di
ruangan tempat Adi dirawat. Mungkin ke
kamar mandi.
“Kalau saja aku dapat mengulang
waktu, aku tak akan berani menyentuh rokok. Seperti Rio. Aku kagum denganmu
yo.” Aku kaget dan juga tersenyum. Ternyata Adi kagum denganku. Aku tak
menyangka. Ternyata dalam penyesalannya karena rokok, dia memikirkan betapa
beruntungnya aku. “Subanallah” “Alhamdulillah” aku benar-benar bersyukur.
Ternyata inilah hikmah dibalik hinaan sebagai banci yang tidak berani merokok.
Kini aku merasa beruntung diantara teman-temanku.
“Kalau aku jadi kalian, aku pasti
berubah. Aku tak akan maksiat, tak akan merokok, rajin sholat. Tap apa daya
sekarang.” Lanjut Adi dengan serius.
***
Beberapa menit berlalu, aku pulang bersama teman-temanku. Tak kusangka ternyata
Tian memberikan amplop kepada Ibunya Adi. Anehnya dia bilang itu dari kami. Aku
bertanya kepadanya,
“Hey,
dari mana kamu dapat uang itu?”
“Semalam menang lagi bro,” Jawabnya
tanpa dosa.
“Astaghfirullah. Hey, itu uang
haram. Sama saja kau membunuh Adi. Dasar bodoh !”
“Bajingan! Dari
pada kau tak memberi apapun !” bantah Tian kepadaku.
“Terserah apa katamu! Aku muak
melihatmu!” Teriaku marah pada Tian. Resa hanya diam saja. Kemudian aku pergi
meninggalkan mereka berdua. Dan aku pun pulang kerumah.
***
Dingin masih kurasakan. Mataku masih
terpejam. Namun ragaku sudah mulai sadar. Aku terbangun karena mendengar suara dari speaker masjid.
Memang tak jelas kedengarannya karena aku masih setengah sadar hanya mendengar
sayup-sayup tak jelas. Tiba-tiba
Ibuku menghampiriku.
“Nak, itu lho Adi meninggal dunia.”
“Haa?? Innalillahi Wainna Illaihi
Roji’un.” Ucapku terkejut
mendengar apa yang di katakan Ibuku.
Aku
kembali bersandar diranjang tempat tidurku mendapati tak kepercayaanku bahwa
Adi telah tiada di dunia ini. Aku menutupi wajahku dengan bantal. Termenung aku
saaat itu. Tak ku sangka kemarin adalah hari terakhir aku berjumpa dengannya.
Aku tak kuasa menahan air mata, meratapi kenyataan bahwa Adi telah
tiada. Ia yang biasanya hidup, tapi kini ia telah mati. Sungguh menyesal pasti
dirinya. Sungguh aku adalah orang yang beruntung karena jauh dari rokok.

No comments:
Post a Comment