Wednesday, January 1, 2014

Teman Bejatku Lagi



Teman Bejatku Lagi
Oleh: M N Sholachuddin

Aku masih tengkurap ditempat ini. Pintu kamarku masih terbuka lebar, seolah ku biarkan sang sepi untuk masuk. Kulirik jam walker diatas meja kamarku. Ternyata menunjukkan pukul 8 pagi. Masih dalam suasana liburan setelah lima hari kematian Adi. Seolah baru kemarin aku bertemu dengannya. Hingga saat ini kata-kata terakhirnya masih terngiang dalam benakku. Katanya aku orang yang beruntung karena jauh dari rokok.
Suka berkata kotor, balap liar, dan merokok. Semua itu seolah tak tergambarkan diwajah Adi di detik-detik terakhirnya. Seolah dia itu bagaikan malaikat tanpa dosa.
Benar apa kata Adi. Mungkin mulai sekarang lebih baik kujauhi teman-teman bejatku, dan kucari teman yang lebih baik lagi. Apalgi yang lebih membuatku jengkel dari mereka adalah saat hari minggu kemarin. Aku tak melihat batang hidung mereka bertiga dipemakaman Adi.
Benar-benar menjengkelkan mereka itu. Yang paling parah saat Ibu Adi sedang kesusahan, Tian memberi sumbangan uang hasil dari taruhan balapan. Bodoh! Benar-benar bodoh! Secara tidak langsung Tian sama dengan membunuh Adi. Aku tak akan menemui mereka lagi.
***
Dimana harus kucari teman sejati? Aku kesepian. Yang paing menyebalkan karena aku tak memiliki saudara kandung. Ingin rasanya aku pergi dari rumah ini. Namun aku benci bila harus bertemu mereka. Tapi setidaknya aku akan keluar dari kamar ini.
Aku memang sudah mandi. Tapi setiap hari memang setelah mandi aku kembali ke kamarku. Tapi kali ini aku mencoba melakukan hal lain. Kuperiksa dapur, karena perutku sudah mulai keroncongan. Namun makanan belum tersedia karena masih jam 9 pagi. Selanjutnya kucoba buka lemari es. Sayangnya hanya ada air putih.
Baiklah, mungkin terpaksa aku harus ke warung Mak Juju. Wanita paruh baya yang memakai daster warna krem. Disana aku langsung memesan es the gelas.
“Baru kelihatan Yo.”
“Memangnya kemarin aku tembus pandang Mak?”
“Hahaha, kamu memang paling lucu diantara teman-temanmu Yo”
“Mereka bukan temanku Mak.”
“Kenapa berkata seperti itu Yo?”
“Sudah, lupakan saja Mak” Akhirnya es the gelas pesananku sudah dihidangkan. Langsung kuseruput sambil kuambil bakwan goreng di nampan.
“Selain kamu, Resa dan Anton juga tak pernah kesini”
“Resa dan Anton? Terus Tian?”
“Sedang sama pacarnya tuh” Jawab Mak Juju sambil mengarahkan kepala kerumahnya. Benar dugaanku. Tian memang tak ada kapok-kapoknya. Resa dan Anton saja sudah tobat. Tapi tetap saja kata-kata Adi tak membekas sedikit pun dalam benak Tian.
Mungkinkah aku hanya iri karena aku belum punya pacar? Padahal jika dibanding dengan Tian, wajahku jauh lebih tampan. Tapi mungkin saja Allah punya rencana lain. Sengaja supaya aku tidak dekat dekat dengan maksiat meskipun selama ini dikelilingi berbagai macam maksiat. Lagi pula aku hanya mencari cinta sejati bukan cinta sementara.
***
Sejenak kulupakan semua masalahku pagi ini sambil menonton film liburan di televisi. Kupelototi kotak penghibur itu sambil memegang sebuah HP. Ternyata ada SMS masuk dari Tian. Tumben anak ini SMS aku. Padahal biasanya telefon. Maklum saja, dia sudah bisa cari uang sendiri. Meskipun uang haram hasil balap liar. Kemudian kubuka pesan darinya, hingga akhirnya berbalas-balasan.
Rio! | Ada apa? | Nanti malam aku tanding. Temani aku ya… |
Benar-benar tak ada kapoknya si Tian. Apalagi nanti malam 7 hari meninggalnya Adi. Tapi aku malas menasehati Tian. Aku juga malas mengajaknya.
Nanti malem 7 harinya Adi. Aku tahlilan di rumahnya | Aku tahu, aku tak bisa datang. Aku mempersiapkan motorku. Tapi kan bisa setelah itu | Ajak yang lain kenapa? | Gak ada yang bales. Yaudah gini aja, kalau entar malem mau nemenin aku, aku kasih apapun yang kamu mauu |
Wah, kebetulan. Aku lagi kepengen punya bukunya Raditya Dika. Mungkin aku bisa memanfaatkan si gendut Tian.
Aku pengen bukunya Raditya Dika | Okey, ntar malem aku tunggu di warung Mak Juju | Sip |
***
Singkat cerita kami tiba disana mengendarai motor Fish rakitan Tian. Disini sangat dingin. Cuaca juga berawan karena ini bulan Desember. Tempat ini ramai sekali anak-anak muda. Aku lebih suka menyebut orang-orang disini “Berandal”.
Kiri dan kanan sawah, dan orang-orang mesum banyak kujumpai disini. Suatu pemandangan yang pertama kali aku lihat malam ini. Jalan ini sepertinya tidak lama dibuat. Aspalnya masih halus. Dari perempatan depan pun tak kelihatan sangking panjangnya jalan ini.
Dosa ada dimana-mana. Hanya remang-remang lampu jalanan yang menurutku tak punya dosa di tempat ini. Balapan pun siap dimulai. Tiap perempatan sudah ditutup oleh berandal-berandal supaya tak ada mobil yang lewat jalur ini.
“Groong…Groong…” Derum suara knalpot sudah terdengar. Tian sudah berada di garis start. Penontoon juga sudah menyorakinya pertanda balapan akan segera dimulai. Aku hanya berdiri di sebelah berandal lain. Tak lama kemudian, balapan dimulai dan Tian sudah tancap gas. Bising sekali disini.
“Wiu…Wiu…” Tiba-tiba suara sirine membuyarkan bayang-bayangku. Para berandal semuanya berlari tunggang langgang menuju kendaraan masing-masing. Mereka semua berusaha kabur. Ada juga yang berlari. Ternyata itu suara mobil polisi yang datang dari arah belakangku. Aku pun bingung harus kemana. Sepertinya cuma aku disini yang membonceng teman. Akhirnya polisi pun semakin dekat ke arahku. Aku hanya bisa pasrah diam ditempat.
Berandal-berandal yang berlari tetap dikejar polisi dengan berlari pula. Mungkin inilah yang sering disebut Kancil oleh temanku. Polisi yang mengejar kemanapun buronanya berlari. Akhirnya aku ditangkap polisi dan dimasukan ke mobil razia. Sementara Tian tak tahu entah kemana.
***
Tibalah aku dan para berandal di kantor polisi. Kami semua diberi nasehat oleh polisi. Untung saja cuma nasehat. Aku kira masa depanku akan berhenti di rumah tahan ini.
Hingga larut malam, akhirnya aku dijemput Ayahku. Benar-benar aku dimarahi habis-habisan oleh Ayah. Sampai berkali-kali tamparan menghujani wajahku. Aku hanya bisa diam dan meneteskan air mata. Hingga salah seorang polisi berbicara kepada Ayahku.
“Putra bapak tadi hanya menonton saja pak. Katanya dia diajak temanya yang bernama Tian.”
“Lantas dimana Tian? Biar kuhajar anak itu!” Bentak Ayahku kehabisan kesabaran. Aku tak pernah melihatnya semarah itu.
“Tak usah pak, sekarang Tian sedang di rumah sakit untuk diotopsi.”
“Kenapa Pak Polisi?”
“Lawan balap Tian menendang Tian hingga terperosok ke sawah. Kepalanya pecah sehingga Tian tewas di TKP.” Benar-benar mengejutkan. Aku terkejut akan kalimat Pak Polisi itu. Mataku terbelalak tak percaya akan semua yang terjadi. Tak kusangka Tian mati setragis itu. Kini Tian telah menyusul Adi. Aku tak tahu betapa beruntungnya aku sekarang. Jauh dari rokok, jauh dari maut.
“Sekarang pihak kepolisian sedang memburu pelaku dan berusaha menghubungi keluarga korban.” Aku tak sedih akan kematian Tian. Aku hanya sebal karena aku tak jadi punya buku Raditya Dika. Tapi meskipun Tian dan Adi adalah temanku yang bejat, tapi darinyalah aku bisa mengambil hikmah. Menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang. Juga belajar berhati-hati dalam memilih teman.

No comments:

Post a Comment