Teman Bejatku Lagi
Oleh:
M N Sholachuddin
Aku
masih tengkurap ditempat ini. Pintu kamarku masih terbuka lebar, seolah ku
biarkan sang sepi untuk masuk. Kulirik jam walker diatas meja kamarku. Ternyata
menunjukkan pukul 8 pagi. Masih dalam suasana liburan setelah lima hari
kematian Adi. Seolah baru kemarin aku bertemu dengannya. Hingga saat ini
kata-kata terakhirnya masih terngiang dalam benakku. Katanya aku orang yang
beruntung karena jauh dari rokok.
Suka
berkata kotor, balap liar, dan merokok. Semua itu seolah tak tergambarkan
diwajah Adi di detik-detik terakhirnya. Seolah dia itu bagaikan malaikat tanpa dosa.
Benar
apa kata Adi. Mungkin mulai sekarang lebih baik kujauhi teman-teman bejatku,
dan kucari teman yang lebih baik lagi. Apalgi yang lebih membuatku jengkel dari
mereka adalah saat hari minggu kemarin. Aku tak melihat batang hidung mereka
bertiga dipemakaman Adi.
Benar-benar
menjengkelkan mereka itu. Yang paling parah saat Ibu Adi sedang kesusahan, Tian
memberi sumbangan uang hasil
dari taruhan balapan. Bodoh! Benar-benar bodoh! Secara tidak langsung Tian sama
dengan membunuh Adi. Aku tak akan menemui mereka lagi.
***
Dimana
harus kucari teman sejati? Aku kesepian. Yang paing menyebalkan karena aku tak
memiliki saudara kandung. Ingin rasanya aku pergi dari rumah ini. Namun aku
benci bila harus bertemu mereka. Tapi setidaknya aku akan keluar dari kamar
ini.
Aku
memang sudah mandi. Tapi setiap hari memang setelah mandi aku kembali ke
kamarku. Tapi kali ini aku mencoba melakukan hal lain. Kuperiksa dapur, karena
perutku sudah mulai keroncongan. Namun makanan belum tersedia karena masih jam
9 pagi. Selanjutnya kucoba buka lemari es. Sayangnya hanya ada air putih.
Baiklah,
mungkin terpaksa aku harus ke warung Mak Juju. Wanita paruh baya yang memakai
daster warna krem. Disana aku langsung memesan es the gelas.
“Baru
kelihatan Yo.”
“Memangnya
kemarin aku tembus pandang Mak?”
“Hahaha,
kamu memang paling lucu diantara teman-temanmu Yo”
“Mereka
bukan temanku Mak.”
“Kenapa
berkata seperti itu Yo?”
“Sudah,
lupakan saja Mak” Akhirnya es the gelas pesananku sudah dihidangkan. Langsung
kuseruput sambil kuambil bakwan
goreng di nampan.
“Selain
kamu, Resa dan Anton juga tak pernah kesini”
“Resa
dan Anton? Terus Tian?”
“Sedang
sama pacarnya tuh” Jawab Mak Juju sambil mengarahkan kepala kerumahnya. Benar
dugaanku. Tian memang tak ada kapok-kapoknya. Resa dan Anton saja sudah tobat.
Tapi tetap saja kata-kata Adi tak membekas sedikit pun dalam benak Tian.
Mungkinkah
aku hanya iri karena aku belum punya pacar? Padahal jika dibanding dengan Tian,
wajahku jauh lebih tampan. Tapi mungkin saja Allah punya rencana lain. Sengaja
supaya aku tidak dekat dekat dengan maksiat meskipun selama ini dikelilingi
berbagai macam maksiat. Lagi pula aku hanya mencari cinta sejati bukan cinta
sementara.
***
Sejenak
kulupakan semua masalahku pagi ini sambil menonton film liburan di televisi. Kupelototi
kotak penghibur itu sambil memegang sebuah HP. Ternyata ada SMS masuk dari
Tian. Tumben anak ini SMS aku. Padahal biasanya telefon. Maklum saja, dia sudah
bisa cari uang sendiri. Meskipun uang haram hasil balap liar. Kemudian kubuka
pesan darinya, hingga akhirnya berbalas-balasan.
Rio! | Ada apa? | Nanti
malam aku tanding. Temani aku ya… |
Benar-benar
tak ada kapoknya si Tian. Apalagi nanti malam 7 hari meninggalnya Adi. Tapi aku
malas menasehati Tian. Aku juga malas mengajaknya.
Nanti
malem 7 harinya Adi. Aku tahlilan di rumahnya | Aku tahu, aku tak bisa datang. Aku
mempersiapkan motorku. Tapi kan bisa setelah itu | Ajak yang lain kenapa? | Gak
ada yang bales. Yaudah gini aja, kalau entar malem mau nemenin aku, aku kasih
apapun yang kamu mauu |
Wah,
kebetulan. Aku lagi kepengen punya bukunya Raditya Dika. Mungkin aku bisa
memanfaatkan si gendut Tian.
Aku
pengen bukunya Raditya Dika | Okey, ntar malem aku tunggu di warung Mak Juju |
Sip |
***
Singkat cerita kami tiba disana
mengendarai motor
Fish rakitan Tian. Disini sangat dingin. Cuaca juga berawan karena ini bulan
Desember. Tempat ini ramai sekali anak-anak muda. Aku lebih suka menyebut orang-orang
disini “Berandal”.
Kiri
dan kanan sawah, dan orang-orang mesum banyak kujumpai disini. Suatu
pemandangan yang pertama kali aku lihat malam ini. Jalan ini
sepertinya tidak lama dibuat. Aspalnya masih halus. Dari perempatan depan pun
tak kelihatan sangking panjangnya jalan ini.
Dosa
ada dimana-mana. Hanya remang-remang lampu jalanan yang menurutku tak punya
dosa di tempat ini. Balapan pun siap dimulai. Tiap perempatan sudah ditutup
oleh berandal-berandal supaya tak ada mobil yang lewat jalur ini.
“Groong…Groong…”
Derum suara knalpot sudah terdengar. Tian sudah berada di garis start.
Penontoon juga sudah menyorakinya pertanda balapan akan segera dimulai. Aku
hanya berdiri di sebelah berandal lain. Tak lama kemudian, balapan dimulai dan
Tian sudah tancap gas. Bising sekali disini.
“Wiu…Wiu…”
Tiba-tiba suara sirine membuyarkan bayang-bayangku.
Para berandal semuanya berlari tunggang
langgang menuju kendaraan masing-masing. Mereka semua berusaha kabur. Ada juga
yang berlari. Ternyata itu suara mobil polisi yang datang dari arah belakangku.
Aku pun bingung harus kemana. Sepertinya cuma aku disini yang membonceng teman.
Akhirnya polisi pun
semakin dekat ke arahku. Aku hanya bisa pasrah diam ditempat.
Berandal-berandal
yang berlari tetap dikejar polisi dengan berlari pula. Mungkin inilah yang
sering disebut Kancil oleh temanku. Polisi yang mengejar kemanapun buronanya
berlari. Akhirnya aku ditangkap polisi dan dimasukan ke mobil razia. Sementara
Tian tak tahu entah kemana.
***
Tibalah
aku dan para berandal di kantor polisi. Kami semua diberi nasehat oleh polisi.
Untung saja cuma nasehat. Aku kira masa depanku akan berhenti di rumah tahan
ini.
Hingga
larut malam, akhirnya aku dijemput Ayahku. Benar-benar aku dimarahi
habis-habisan oleh Ayah. Sampai berkali-kali tamparan menghujani wajahku. Aku
hanya bisa diam dan meneteskan air mata. Hingga salah seorang polisi berbicara
kepada Ayahku.
“Putra
bapak tadi hanya menonton saja pak. Katanya dia diajak temanya yang bernama
Tian.”
“Lantas
dimana Tian? Biar kuhajar anak itu!” Bentak Ayahku kehabisan kesabaran. Aku tak
pernah melihatnya semarah itu.
“Tak
usah pak, sekarang Tian sedang di rumah sakit untuk diotopsi.”
“Kenapa
Pak Polisi?”
“Lawan
balap Tian menendang Tian hingga terperosok ke sawah. Kepalanya pecah sehingga
Tian tewas di TKP.” Benar-benar mengejutkan. Aku terkejut akan kalimat Pak
Polisi itu. Mataku terbelalak tak percaya akan semua yang terjadi. Tak kusangka
Tian mati setragis itu. Kini Tian telah menyusul Adi. Aku tak tahu betapa
beruntungnya aku sekarang. Jauh dari rokok, jauh dari maut.
“Sekarang
pihak kepolisian sedang memburu pelaku dan berusaha menghubungi keluarga
korban.” Aku tak sedih akan kematian Tian. Aku hanya sebal karena aku tak jadi
punya buku Raditya Dika. Tapi meskipun Tian dan Adi adalah temanku yang bejat,
tapi darinyalah aku bisa mengambil hikmah. Menjadi pribadi yang lebih baik dari
sekarang. Juga belajar berhati-hati dalam memilih teman.

No comments:
Post a Comment