Makna Kehidupan
Oleh: M N Sholachuddin
Indahnya tahun baru 2014 meskipun pada
detik pertamanya, alam menyambutnya dengan tangis haru. Suka cita dan bangga
langit kota menyambutnya dengan turun Gerimis nan indah. Bak bidadari yang
turun dari kayangan. Berjajar rapi beriringan seperti tarian air yang dapat
membasahi kalbu.
Pagi itu hujan turun hampir dari seharian. Semua orang cemas akan cuaca pagi
itu. Udara suci yang belum terjamah oleh manusia itu terpaksa harus bergulat dengan rentetan air kayangan. Dedaunan
melihatnya dengan tatapan yang iri.
“Lihatlah mereka! Air dan udara sangat ramah. Tak seperti aku dan ulat
pohon. Air dan udara bermadu kasih, menghasilkan buah karya indah yang disebut
pelangi. Tapi, lihatlah aku ! lihatlah aku yang hanya menjadi makanan ulat.
Padahal ulat hidupnya hanya bisa membuat manusia gatal.” Daun menggerutu sambil
mengalirkan air yang sedari tadi menetesi tubuhnya hingga membuatnya seolah
menari.
“Aku bangga kehadiranku ini membuat
pohon yang aku tinggali ini menjadi berbuah. Tanpa aku, buah akan hancur terjatuh dan tersapu angin. Dan tak bisa dimakan oleh
manusia yang gemar merawatku. Tapi disisi lain,
aku benci kenapa kehadiranku untuk dimakan ulat yang dapat membuat manusia
bergidik. Kenapa Tuhan menciptakanku seperti ini? Tuhan pasti salah. Tuhan
salah!” Bentak daun dengan keras. Saking kerasnya membuat tangkainya yang
lunglai terputus dari batang pohonnya. Akhirnya daun itupun terpisah oleh angin
yang berhembus saat fajar shodiq tiba.
Daun itupun terombang-ambing tertiup
angin hingga tinggi sekali. Suara gemuruh halilintar bersahutan seolah murka
terhadap daun yang tak ikhlas menjalani kehidupannya. Sangat menggelegar
membuat daun yang tipis itu ketakutan hingga makin pipih.
“Kenapa aku harus takut dengan kalian?
Aku tak punya urusan dengan halilintar. Aku hanya tak mengerti kenapa Tuhan
menciptakan ulat.” Masih seperti tadi,
daun itu terseret genggaman angin hingga daratan sudah tak kelihatan lagi. Daun
itu terbawa keatas awan. Warna kelabu mendung perlahan mengikis. Transisi warna
kelabu kehitaman bercahaya itu benar-benar membuat mata terpana.
Daun itu pun terkesima akan yang ia lihat sekarang. Apalagi
perlahan langit malam itu memancarkan
corak pelangi. Goresan tinta gemerlap penuh warna menghiasi langit itu. Seperti
kabut, namun indah bagai pelangi. Benda itu memang pelangi malam. Lebih sering
disebut Aurora.
“Hai Aurora ! Tuhan menciptakanmu begitu
indah. Tapi kenapa aku buruk kecil dan menjadi makanan ulat? Aku pikir Tuhan tak adil !” Daun berdesah mengungkapkan
perasaannya yang gelisah kepada Aurora.
“Jika aku dapat memilih, aku lebih ingin
menjadi daun. Untuk apa aku indah jika aku jarang terlihat. Keindahanku juga
terhalang oleh awan. Tak ada yang dapat aku banggakan.” Daun pun merenung
terpukau. Daun tak mengerti akan ciptaan Tuhan. Daun pun bergumam.
“Sebenarnya untuk apa kita diciptakan?
Aurora pun tak bangga aku pun tak tahu kenapa aku diciptakan sebagai makanan
ulat. Aku yakin Tuhan memang benar-benar salah.” Hingga lambat laun angin mulai
berhembus pelan. Hingga membuat daun turun dengan perlahan. Sampai akhirnya
daun itu mendarat ditaman yang basah bekas tetesan air hujan.
Kemudian matahari pagi mulai menyongsong
hari. Kicau burung nan merdu bak lantunan
penyair. Daun melihatnya dengan cemburu.
“Benar-benar indah pagi ini. Aku jadi
ingin seperti burung-burung. Berkiacau ria, berkembang biak, dan dapat memburu
ulat.” Daun sadar akan indahnnya pagi. Hingga dia tetap dapat merasa gembira
walaupun dalam perasaan hambar.
Kemudian lewatlah seekor kupu-kupu yang
mengepakkan kedua sayapnya. Begitu indah corak sayapnya hingga membuat
daun yang terbaring itu berdecak kagum.
“Indah sekali. Manusia pasti senang
melihatmu
kupu-kupu. Apalagi karena kupu-kupu terjadi perkembang biakan sebuah pohon
yang kemudian dirawat manusia. Tapi bukankah
kupu-kupu dulunya ulat pemakan daun?” Daun pun kini menyadarinya. Ulat yang
sering dia kutuk, kini menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu yang
hidup dari tangkai ke tangkai, membawa serbuk sari, dan membuat pohon baru
tumbuh.
“Aku salah tentang Tuhan. Aku hanya tak
tahu apa-apa tentang makna kehidupan ini.
Aku memang bodoh! Kini aku rela tubuhku dimakan ulat. Biar ulat tumbuh menjadi
kupu-kupu, membawa kehidupan pohon baru, dan akhirnya tumbuh daun-daun yang
baru. Daun akan ada disetiap pohon. Dirawat
manusia dan membawa ketentraman bagi semua makhluk dimuka bumi. Kita memang diciptakan berdampingan. Dan
sekarang baru kusadari hal itu. Hidup ini indah dan bahkan kini aku rela
tubuhku dimakan ulat jika itu membuat alam sememesta menjadi lebih indah.” Kata
daun itu dalam hatinya dan merenungi penyesalannya.
Kemudian semakin lama waktu berjalan,
kesegaran daun itu mulai memudar. Yang awalnya hijau menjadi kuning. Hingga akhirnya
daun itu terinjak-injak hingga menjadi sebuah debu.

No comments:
Post a Comment