Oleh: M N Sholachuddin
Seorang anak remaja laki-laki berparas
putih bersih berpakaian putih merah yang menandakan bahwa ia masih SD, menyusuri
jalan hingga tertuju pada suatu pintu yang seolah memanggil dirinya. Memaksa
hasrat dalam jiwanya yang membuat langkahnya semakin cepat. Anak itu mulai
masuk dengan mengucapkan salam dengan wajah berseri-seri.
“Assalamu’alaikum...” katanya perlahan
sambil melemparkan tasnya ke ranjang yang kelihatanya empuk hingga tasnya pun
memantul kembali. Kemudian laki-laki itu bergegas ke ruang tamu.
“Wa’alaikum salam, Gimana tesnya? Bisa?”
tanya seorang wanita yang tampak seperti ibu-ibu dari balik ruang yang terlihat
sedang mencuci piring. Suara gemericik air pancuran yang mengenai piring seolah
mengiringi peristiwa itu.
“Mirza!” ujar Ibu itu agak keras sambil
melanjutkan cucianya.
“Kalau nggak bisa aku tak mungkin sudah
pulang Bu, dan satu hal lagi ini UN, bukan Tes biasa” jawab Mirza dengan nada
malas sambil menghampiri Kucing orange yang tertidur pulas di shofa karet warna
hijau daun.
“Gampang apa susah?” tanya Ibunya lagi
sambil mematikan keran dan disambung mengelap piring-piring.
“Gampang” jawab Mirza sambil
mengelus-elus leher Kucingnya. Kucing itu pun terlihat nikmat dengan memejamkan
mata sambil mengangkat kepalanya. Mirza memang anak yang cerdas. Namun tak
cukup cerdas untuk mengendalikan kesombonganya
“Gampang berarti 100 lho…” ujar Ibunya
meremehkanya. Ibunya kemudian berjalan ke ruang tamu dan ikut duduk di shofa
dengan jarak yang berjauhan.
“Halah, ngapain nyuruh aku dapet 100? Ibu
sendiri nggak pernah kok” balas Mirza.
“Anak itu harusnya lebih pintar dari
orang tuanya. Jangan sampai lebih pintar orang tua dari pada anaknya. Ntar
memalukan” kata Ibunya sambil melihat ke jendela. Sementara Mirza hanya
menirukan perkataan Ibunya dengan menggoyangkan bibirnya seolah mengejek perkataan
Ibunya.
“Halah cerewet sih, udahlah Bu…jangan
ganggu Mirza. Capek habis Ujian. Mau main sama Kucing” ujar Mirza sambil
membopong Kucingnya pergi dari ruang tamu. Mirza pergi menuju halaman belakang
rumahnya sambil menaruh Kucingnya. Kucingnya pun bangkit dan mengarahkan kaki
depanya maju dan menekuk tubuhnya ke bawah. Begitulah cara Kucing melemaskan
tubuhnya.
Mirza terlihat gemas. Apalagi sekarang Kucingnya
mandi pasir dan kemudian menjilat-jilat tubuhnya. Mirza hanya tersenyum.
“Puss…” kata Mirza memanggil Kucingnya
dengan lembut. Namun sang Kucing tidak mempedulikanya dan masih sibuk dengan
tubuh dan bulu-bulunya yang lembut.
Serontak mata Mirza terlihat kosong.
Seolah memikirkan sesuatu. Tampaknya Mirza sedang melamun sambil melihat Kucingnya.
Kucingku…
Kau begitu lucu…
Begitu menggemaskan…
Hanya kau satu-satu temanku di
dunia ini…
Yang ada di saat aku kesepian…
Sendiri…
Dikala aku sedih…
Dikala aku bahagia…
Aku menyayangimu…
Kata Mirza dalam hati. Kemudian Mirza mendekati
Kucingnya dan mulai mengelus punggung serta bulunya yang lembut.
“Aku begitu kesepian, andai aku memiliki
seorang Adik. Aku pasti akan sangat menyayanginya” kata Mirza dengan amat sangat
pelan sekali. Dan mungkin hanya dia dan Tuhan yang dapat mendengarkan perkataanya.
***
Dinginya angin malam mulai terasa.
Kicauan burung mengiringi tenggelamnya sang surya. Langit memerah diikuti
lantunan rekaman Tilawatil Qur’an dari speaker masjid tua itu.Beberapa saat
kemudian adzan berkumandang menandakan waktu sholat. Mirza bergegas ke masjid
dengan baju koko putih, sarung hitam serta peci putih.
Sholat pun ia jalani dengan hati yang
ikhlas. Setelah sholat selesai, lantunan salam sang Imam diikuti oleh
Makmumnya. Namun Mirza tidak langsung pulang. Tetapi berdo’a kepada Allah.
“Ya Allah, tolong engkau obati rasa
kesepianku. Ya Allah, berikanlah aku seorang Adik. Ya Allah, trimakasih telah
kau lancarkan ujianku. Jadikan aku lulus dengan nilai yang baik. Buat orang
tuaku bangga Ya Allah. Amin…” berikut do’a Mirza yg di ucapkan dalam hati.
Kemudian Mirza mengusapkan tanganya ke wajahnya. Mirza pun bangkit kemudian
bergegas pulang ke rumahnya.
***
Liburan panjang telah usai. Kini saatnya
Mirza menyibukan diri sebagai pelajar kelas 3 MTs. Mirza berangkat dengan
mengendarai sepeda motor Ninja hadiah dari ayahnya karena peringkat pertama di
kelasnya. Sekolah dijalani dengan bahagia seperti biasa sampai akhirnya saat
pulang sekolah, dia mendapat kabar yang mengejutkan bahwa Ibunya telah hamil 2
minggu.
Alangkah bahagianya Mirza hingga setiap
hari kesekolah tersenyum terus hingga dikira dia gila oleh temanya. Sampai 9
bulan lebih 1 hari Adik perempuanya lahir dengan selamat dan diberi nama Dania.
Sepanjang hidupnya, Mirza menyayangi Adiknya
dan tak pernah sekalipun membentaknya. Mirza selalu ada disaat Adiknya
membutuhkan. Saat Dania ketakutan, saat butuh bantuan PRnya, saat minta
didongengkan, minta diantar ke kamar mandi, sampai minta menemani tidurnya.
Mirza tak tidur sebelum Adiknya tertidur pulas. Alangkah besarnya kasih sayang
Mirza pada Dania. Sehingga Dania lebih suka bersama Mirza dibanding orang
tuanya sendiri.
***
Beberapa tahun berlalu dan sekarang Dania
telah berusia 15 tahun. Dania tumbuh cantik dan sudah mengerti apa artinya
cinta. Namun, Dania salah menempatkan cintanya. Dia mencintai Mirza yang
berstatus Kakaknya sendiri. Namun Dania tak mengungkapkanya. Ia hanya
menuliskan pada buku diarynya.
Kakak…
Andai
engkau tau aku nyaman di sisimu…
Aku tau inilah yang di sebut cinta…
Aku hanya ingin bersamamu pada dua
waktu…
Sekarang…
Dan Selamanya…
Kata Dania pada torehan tinta di kertas.
Sampai saat ini giliran Dania yang melayani Kakak tersayangnya. Dania ada disaat
Mirza membutuhkan. Selalu menyediakan minuman saat Kakaknya pulang kerja,
memijit Kakaknya ketika sedang sibuk di depan layar monitor, dan menjadi tempat
curhat dari masalah sehari-hari yang dialami Kakaknya. Dania tak ingin
membebani Kakaknya dengan masalah-masalahnya karena dia mencintai Mirza.
Dania merasa bahagia karena dia semakin dekat
dengan Kakak tersayangnya. Begitu pula Mirza yang senang akan tingkah laku Adiknya.
***
Kisah
bahagia Dania pun berakhir 2 tahun kemudian. Saat Dania sedang bersih-bersih
rumah sambil tersenyum karena kebahagiaanya, tiba-tiba dia dikejutkan
kedatangan Kakaknya.
Dania
heran akan seseorang yang bersama Mirza. Wanita cantik yang terlihat sepantaran
dengan Mirza masuk ke rumah dengan digandeng Mirza. Mereka berdua tampak
berseri-seri.
“Assalamu’alaikum…
Ayah, Ibu, Adik…” ujar Mirza sambil memanggil keluarganya. Tak lama, Ibu dan
Ayahnya serta Dania datang menghampiri Mirza.
“Wa’alaikumsalam,
Eh…ini perempuan cantik siapa Mir?” tanya Ibunya sambil tersenyum. Ayahnya juga
tersenyum kecuali Dania yang terlihat mrengut menekuk wajahnya.
“Yah,
Bu, Adik…Ini Halizah, teman Mirza waktu MI, MTs, sampai Kuliyah dan bekerja.
Ini calon menantu ayah dan Ibu…” jawab Mirza dengan lembut.
“Subhanallah
Mir…Ini cantik Mir, apa lagi berjilbab gini. Terlihat Sholeha…” puji Ibunya.
“Trimakasih
ya bu, Ibu bisa saja…” kata Halizah malu-malu.
“Iya
Mir, gak salah kamu pilih mantu Ayah. Biar cucu Ayah ganteng dan cantik seperti
orang tuanya. Hehe” ujar Ayah Mirza dengan tertawa kecil. Dania hanya diam dan
langsung masuk ke kamar tanpa berkata apapun.
Semuanya
terlihat heran dengan tingkah laku Dania yang tak biasa. Di kamar, Dania
langsung berbaring tengkurap dengan kepala tertutup bantal dan menangis.
Alangkah sedih teriris hati Dania karena cinta.
“Ap..pa
salahku Ya Allah..” kata Dania dengan mulut terbungkam bantal di mukanya.
Tangis Dania tak henti-henti hingga malam larut. Namun, tangisan Dania tak
dihiraukan keluarganya. Akhirnya Dania memaksakan diri keluar kamar dan
menjalani harinya seperti biasa seolah tak pernah terjadi suatu apapun.
***
Hari-hari
berlalu dengan kesedihan yang dialami Dania. Rasa sakit bertubi-tubi yang tak
bisa dibayangkan pedihnya. Hingga akhirnya 5 bulan berlalu dan kini Mirza telah
3 minggu menikah dengan Halizah.
Suatu
saat Mirza pergi bekerja dan orang tuanya berbaring dikamar, Dania mencari
kesempatan untuk menemui Halizah. Akhirnya Dania pun berhasil menggiring
Halizah di kamar. Dengan muka takut, Halizah menuruti Adik iparnya.
“Sebenarnya
aku mencintai Kak Mirza. Dan bukan cinta Adik kepada Kakak. Namun cinta
layaknya seorang kekasih” ungkap Dania di depan Halizah. Alangkah terkejutnya
Halizah akan perkataan Dania. Sampai-sampai matanya terlihat bulat karena dia
terkejut.
“Dan
kau!!! Mesti ingat. Jangan sekali-kali kau buat hati Kakakku itu tersakiti…!!!”
ujar Dania kasar sambil menunjuk-nunjuk kepala Halizah. Halizah hanya terpaku
sambil mengeluarkan air mata tanpa berkata apapun. Halizah terisak-isak sedih.
“Hiks…hiks…hiks…”
ungkap sedih Halizah.
“Jika
itu terjadi, aku tak segan-segan bertindak!!” lanjut Dania dengan tatapan mata
yang tajam dan langsung meninggalkan Halizah di kamar sendirian. Namun
tiba-tiba.
“Hoeeks…”
suara Halizah yang muntah dan langsung terjatuh ke arah kasur. Dania pun
membalikan badan dan terkejut dengan yang terjadi dan berteriak.
“Toloong…”
suara Dania yang membuat kedua orang tuanya terhentak dan lekas menolong
Halizah. Ternyata Halizah sedang hamil 1 minggu. Tak lama kemudian Mirza
datang.
Dania
yang ketakutan bergegas ke kamar dan membaringkan tubuhnya. Dengan ketakutan
Dania menulis dalam diarynya.
Aku
khawatir...
Bukan
Khawatir keadaan Halizah…
Tapi
khawatir Kakak ku mengetahui bahwa aku yang telah menyebabkan Halizah pingsan.
Tapi yang paling aku benci ternyata dia mengandung…
Aku
yang seharusnya berhak mendapat anak dari Kak Mirza…
Namun
itu tak mungkin…
Begitulah
isi tulisan Dania yang di tulis dengan wajah yang suram seperti yang menuliskan
bukan dirinya. Mukanya bagai gerhana yang tertutup kabut hitam. Hatinya kelam
dipenuhi emosi. Entah setan apa yang merasuki diri gadis manis secantik Dania.
***
Suatu
hari di esok yang cerah, membuka cakrawala baru dengan penuh suka cita. Hari
ini Dania sedang pergi melamar pekerjaan bersama dengan teman seangkatanya. Di
rumah, Halizah sedang hamil tua dan tak bisa mengerjakan tugas rumah. Akhirnya
Mirza mengambil cuti dan melaksakan tugas yang seharusnya milik Halizah.
Mirza
mencuci, mengepel, menyapu, dan bersih-bersih. Sampailah Mirza di kamar Dania.
Suasana kamar itu tampak sepi senyap. Terdapat kipas angin yang lupa dimatikan.
Mirza mematikan kipas itu. Kemudian mata Mirza tertuju pada buku tebal yang
terletak di atas meja MakeUp.
Tanpa berpikir panjang, dengan penasaran Mirza mengambil
buku itu dan kemudian duduk di kasur itu. Dengan perlahan dan santai, Mirza
membuka buku itu perlahan. Buku berwarna hijau itu tertulis “My Diary” pada cover buku itu.
Mirza hanya membuka lembar per lembar buku itu dengan
santai. Dan membaca buku itu dengan ekspresi biasa. Mirza terkejut ketika
membaca bagian yang menunjukan ternyata Dania menyukai dirinya.
“Benarkah apa yang aku
lihat ini?”kata
Mirza terkejut. Mirza pun mulai tertarik dengan buku itu dan membacanya. Satu
per satu halaman ia buka dan pahami. Hinga sampailah Mirza pada halaman terakhir.
Mirza pun terbelalak ketika membaca tulisan
Aku
khawatir...
Bukan
Khawatir dengan keadaan Halizah…
Tapi
khawatir Kakakku mengetahui bahwa aku yang telah menyebabkan Halizah pingsan…
Tapi yang paling aku benci ternyata dia mengandung…
Aku
yang seharusnya berhak mendapat anak dari Kakakku…
Namun
itu tak mungkin…
Pandangan
mata Mirza serontak berubah dan jantungnya pun berdegup dengan kencang. Nafas
tak beraturan dengan desir darahnya yang naik menandakan emosi Mirza mulai
keluar. Tangan Mirza menggenggam dengan sangat erat dan diangkatnya perlahan.
(
BRAAAK…!!! ) suara tangan Mirza yang dia
pukukan ke arah meja MakeUp dan membuat tangan kananya itu mengeluarkan darah.
Rasa sakit tak dapat ia rasakan karena terselimuti akan emosinya.
“Tak
kusangka… Kk..Kau tega melllakukan perrr… buatan ini..Ddddania…” kata Mirza
dengan terbata-bata karena sedang di kuasai oleh setan.
***
Kini
sore telah tiba. Dania pulang dengan wajah tampak bahagia karena dia telah
mendapatkan pekerjaan. Ketika Dania sampai dirumah, ia heran karena lampu masih
mati tak seperti biasanya. Dania pun masuk dengan agak gugup.
“Assalamu’alaikuuum…”
ucap Dania lembut. Namun ternyata tak ada jawaban. Tanpa ia sadari ternyata dia
telah ditunggu oleh Mirza di tengah kegelapan ruang tamu.
Dengan
mengejutkan, Mirza langsung bangkit dan mengambil langkah cepat yang membuat
Dania terkejut.
(
PLAK…!!! ) suara tamparan Mirza dengan tanpa mengeluarkan
sepatah katapun.
“Aduuh…”
kata Dania spontan diikuti dengan air matanya. Tangis Dania tak terbendung
lagi. Isak tangisnya mengharukan membuat pipi manis Dania terlihat tidak lucu
lagi.
“A..aku
salah apa kaaak…?” tanya Dania dengan terisak-isak. Dengan tanpa jeda, Mirza
langsung menjawab tanpa menunggu Dania menyelesaikan perkataanya.
“Salah
appa katttamu…??!! Kau salah banyak…!! Kau salah mencintaiku…! Dan yang paling
aku benci darimu, kau membuat Istriku menderita…!!” bentak Mirza yang membuat
Halizah serta orang tua Mirza keluar. Mereka semua terkejut akan peristiwa itu.
Ibu Mirza yang terkejut langsung berlari menyelamatkan Dania dan membawanya
menjauh dari Mirza sambil berkata
“Ya
Allah Mir…!! Apa yang terjadi…??” tanya Ibunya agak keras sambil memeluk Dania
dan mengelus-elus kepala Dania yang sedang terkapar duduk di lantai dan
bersandar di tembok.
“Ibu
seharusnya tidak membela wanita seperti ini…!!! Dia tak pantas dikasihani” bentak
Mirza pada Ibunya sambil menunjuk-nunjuk kearah Dania yang masih menangis
terisak-isak. Sementara ayahnya hanya diam saja menyaksikan kejadian ini.
Halizah pun demikian.
“Apa
apaan kau Mir…?? Baru pertama kali ini kulihat anak Ibu membentak Dania.
Sebenarnya apa yang terjadi Mir…??” tanya Ibu dengan wajah yang terlihat sedih
sementara melawan wajah Mirza yang terlihat sangat kelam.
“Dania
ternyata menyukaiku. Kakaknya sendiri…!! Dan yang lebih parah, dialah yang
membuat Halizah menderita…!!” ujar Mirza yang masih dengan bentakan kasar.
“Hentikan
itu sayang, itu tidak benar…” bantah Halizah dengan ikut menangis.
“Bagaimana
kamu bisa bilang semua ini Mir…? Apa dasarnya?” tanya Ayahnya dengan nada
layaknya orang tua.
“Aku
membaca ini semua dari diary Dania…” jawab
Mirza tegas. Kemudian Dania pun berani berbicara.
“Lancang
sekali Kakak membukanya. Itu privasiku..” kata Dania sambil mengusap air
matanya.
“Diam
kau perempuan sialan!!” bentak Mirza sekali lagi. Semua pun terkejut akan perkataan
Mirza. Dania pun kembali menangis. Dengan menangis Dania bertutur
“Kenapa
tidak kau bunuh saja aku kak?? Aku lebih suka mati dari pada hatiku yang
tersakiti…” ujar Dania yang masih berlinangan air mata.
“Baiklah
jika itu maumu…!! Aku harap malaikat pencabut nyawa datang kemari dan
mengabulkan keinginanmu!!” kata Mirza makin kasar.
“Husshhh…perkataanmu
di jaga nak…” pinta Ibunya. Mirza pun mengucap Istighfar.
“Hentikan
semua ini Mirza… Aku yang tersakiti pun rela dan memaafkan Adikmu. Kenapa kau
tidak? Dia mencintaimu juga bukan kesalahanya” pinta Halizah kepada Mirza.
Mirza hanya terdiam menunduk meresapi perkataan Istrinya.
“Kak
Halizah, aku minta maaf atas semua yang aku lakukan…” kata Dania pada Halizah.
“Sebelum
kamu minta maaf, sudah aku maafkan kok Dik…” jawab Halizah lembut sambil
menangis haru.
“Cinta
memang jahat. Kenapa aku terlahir di dunia merasakan ini. Jika tau begini aku
berharap tidak pernah lahir di dunia” ujar Dania dengan nada pasti. Mendengar
kalimat itu Mirza teringat akan masa lalunya ketika ia berharap Dania turun ke
dunia. Mirza pun mulai meneteskan air mata dengan menundukan kepala.
“Maafkan
aku Dik… Aku menyesal telah menyakitimu… Aku tau aku yang berdo’a berharap
mendapatkan Adik sepertimu… Itu semua karena rasa kesepianku… Namun kini ku
sia-siakan dirimu… Sekali lagi maafkan aku Dik…” pinta Mirza pada Dania sambil mendekati
Dania dan bertekuk lutut meminta maaf.
“Iya
Kak, aku masih tak mengerti ini salah siapa. Kenapa Tuhan tega memberikan rasa
ini padaku? Ini salah Kak Mirza yang berlebihan menyayangiku, ataukah salahku
yang mencintai Kakakku sendiri?” tanya Dania bingung yang masih terbebani
pertanyaanya sendiri.
“Yang
pasti bukan salah tuhan yang telah memberikan cinta. Karena sesungguhnya cinta
itu indah” jawab Mirza sambil memeluk Adik dan Ibunya tersayang.
Tangis
pun mulai reda. Awan badai seakan hilang dari kepala mereka. Halizah menangis
namun tersenyum melihat peristiwa ini. Ayahnya pun yang sedikit mengeluarkan
air mata dengan malu-malu dan masuk ke dalam kamar. Dania pun mengusap air mata
dan mulai bangkit dengan perlahan yang di bantu berdiri Ibunya.
“Baiklah
Kak, Mulai sekarang aku akan menghapus rasa cinta yang telah tertanam begitu
lamanya. Akan kucoba meski berat dan pedih rasanya” ujar Dania dengan sedih.
“Maafkan
Kakak yang telah membuatmu sakit hati Dik… Kakak berjanji akan mengobati rasa
pedihmu sampai benar-benar sembuh” hibur Mirza pada Dania sambil dia berdiri.
“Bagaimana
caranya Kak?? Sakit hati itu tak ada obatnya…” tanya Dania dengan wajah heran. Ibunya
hanya terdiam heran. Sementara Halizah ingin ikut berbicara.
“Ada
satu Dik, Obat sakit hati adalah mencintai orang yang pernah tersakiti juga
hatinya…” kata Halizah lembut.
“Kakak
akan berusaha mencarikan untukmu Dik…” ujar Mirza untuk menebus kesalahanya.
“Tak
semudah itu Kak… Berkali-kali pria datang padaku menawarkan diri mereka, namun
kutolak sia-sia. Hanya karena aku mencintaimu kak…” ujar Dania mempersulit Kakaknya.
“Sayang
cintamu terlarang Dik… Kamu harus mengarahkan panah cintamu ke orang yang
tepat. Yang pasti aku berjanji akan mengobati sakit hatimu Dik…” hibur Mirza
sekali lagi yang membuat Dania tersenyum dan diikuti Halizah dan Ibunya yang
ikut tersenyum.
“Kakak
berjanji?” tanya Dania yang terlihat agak senang.
“Aku
belum pernah berbohong kepadamu” jawab Mirza meyakinkan. Dania pun berlari ke
arah Mirza dan langsung memeluk Mirza dengan erat. Mirza pun bingung antara
membalas pelukan itu atau tidak. Mirza menoleh kepada Istrinya.
Halizah
hanya menganggukan kepala sambil tersenyum. Kemudian Mirza membalas pelukan itu
dan ikut tersenyum. Ibu Mirza yang tak kuasa haru melihat kejadian ini, ikut
masuk ke kamar.
Aku
mencintaimu Kak...
Kini
bukan cinta yang salah lagi…
Dan
cinta layaknya seorang Adik kepada Kakaknya...
Begitulah
akhir dari Diary Dania yang menjadi penutup kisah Diary nya. Dan akhirnya
beberapa tahun kemudian Dania menikah dengan seorang laki-laki yang lebih baik
dari Mirza. Tentu saja Mirza yang mencarikan pria yang pantas untuk Adik
tersayangnya.
Kemudian
beberapa tahun berlalu Dania dikaruniai anak laki-laki yang berwajah mirip
dengan Mirza. Alangkah bahagianya Dania saat ini akan hidup baru bersama
keluarga barunya.

No comments:
Post a Comment