Oleh:
M N Sholachuddin
Kududuk bersandar di bangku coklat. Tanganku menggenggam
selembar kertas HVS dengan sebuah bacaan diatasnya. Kelas ini memang kosong.
Karena ini hari bebas setelah seminggu kemarin aku melaksanakan ulangan umum
semester 1. Tapi aku tidak sendirian di sekolah ini. Karena teman-temanku yang
lain berada diluar kelas melihat kebawah melihat siswa lainnya yang sedang
bermain volly. Bukan, mereka bukan bermain. Mereka bertanding. Benar sekali
karena hari ini adalah acara Classmetting disekolah. Seperi tradisi sebelumnya,
Classmetting ini diadakan sampai 5 hari kedepan.
Aku nyaris tak suka mengikuti acara perlombaan seperti
itu. Karena aku tak suka kompetensi fisik. Sementara 5 hari itu diisi kegiatan
yang paling aku benci. Volly, basket, futsal, badminton, dan sepak bola. Karena
itu ku urungkan niatku mengikuti Classmetting ini. Baik personal, maupun
perwakilan kelas XI TKJ.
Aku memang kelas XI sekarang. TKJ adalah nama jurusanku. Teknik
Komputer Jaringan kepanjanganya. Tentu saja itu jurusan yang hanya ada di SMK. Namanya
juga SMK. Karena itu Classmettingya hanya ada kegiatan fisik.
Tapi selebaran yang aku genggam ini membuatku bahagia.
Selebaran yang kudapat dari Mading sekolahku. Aku hanya tersnyum kecil dan berdecik kagum membaca
pengumuman ini. Tak ku sangka. Akhirnya sekolahku mengadakan lomba menulis Cerpen.
Wow ! Aku tak tau bagaimana cara
mengekspresikan ini. Yang jelas aku sangat tertarik dan bahagia meskipun belum
tentu aku yang menang. Aku memang sudah sering menulis cerpen, tapi aku tak
tahu mana yang akan aku lombakan. Tiba-tiba seseorang datang mengejutkanku
“Lah, Colah.” Aku terkejut dan
seketika mengalihkan pandanganku dari kertas itu kearah pintu. Ternyata itu
Ivan. Dia temanku yang paling baik. Apalagi di SMK yang terkenal laki-laki dan
nakal-nakal.
Colah. Begitulah
mereka memanggilku. Karena nama lengkapkku Mohammad Noor Sholachuddin. Ku toleh
ke Ivan.
“Ada apa Van?”
“Ayo CS.” Dia mengajakku bermain
Counter Strike. Lebih seringnya kami menyebut CS untuk memudahkan
mengucapkannya. Kami memang sering main Counter Strike di Lab.Sekolah ketika
waktu luang. Kami bermain bersama tema-teman lainnya. Aku memang iingin
menerima ajakan Ivan. Tapi selebaran ini tertulis maksimal harus besok aku
menumgpulkan cerpen. Sementara itu ivan mendekat kearahku. Sepertinya dia
tertarik akan selebaran yang ku genggam ini.
“Hey, itu brosur lomba Cerpen kan?”
“Iya, tapi aku bingung mau ngirim
yang mana.”
“Cerpen pertamamu itu keren, yang
pernah kamu lombakan.”
Memang benar
kata Ivan. Menurutku cerpen pertamaku memang bagus. Bukan cuma aku yang berkata
seperti itu. Bahkan semua yang telah membacanya. Mulai dari teman, saudara,
temannya teman, pacar, sampai temannya pacarku. Oh iya, guruku juga. Memang sih
keren, tapi tetap saja kalah. Tentu saja kalah, karena itu aku ikutkan di
sayembara Majalah Nasional. Pasti sainganku ada ribuan.
“Pengennya sih aku iktukan yang
pertama. Judulnya Cinta Jangan Salahkan Tuhan. Tapi cerpen itu ada 8 halaman,
sementara persyaratannya maksimal 5 halaman,”ujarku.
“Kan bisa diperpendek,”saran Ivan.
“Nggak deh, sepertinya memotong
sepenggal saja dapat mempengaruhi ruh dari cerpen tersbut.”
“Wuiih, bahasamu ngeri loh,”
“Hahahaha. Memang begitu kok.”
“Apa kau tak punya cerpen lagi?”
“Aku sih punya empat. Tapi menurutku
itu tak lebih baik dari yang pertama.”
“Memangnya kenapa?”
“Ceritanya jelek. Malah mending curhatan
anak alay di facebook Van,”
“Hahaaha..Yaudah bikin lagi saja.”
Tutur Ivan.
Sedari tadi ia mengobrol sambil
berdiri. Kemudian kami pergi ke Lab untuk menyusul kawan kami yang lain. Tapi
aku kesana untukmenulis cerpen. Ivan bilan dia akan membantu. “Yes! Let’s make
cerpen !” teriaku dalam hati. Semangatku mulai membara meskipun belum tahu apa
yang akan aku tulis. Sesampainya didepan
pintu Laboratorium, ku lepaskan sepatuku. Kemudian ku tata rapi dirak sepatu
yang memang ada banyak sepatu lainnya. Setelah itu kubuka pintu, ternyata
memang benar disini sudah banyak teman-temanku.
Kurasa hawa dingin mulai masuk melalui pori-pori kulitku. Sangat
dingin sehingga membuatku bergidik. Untung saja aku tetap memakai kaos kaki
sehingga tak begitu dingin. Ku lihat temanku asik menggerakkan mouse dan
menekan keyboard. Mereka hanya melirik sekejap kearah aku dan Ivan yang baru
saja tiba.
“Ayolah teroris, jadi timku.” Salah
satu temanku yang bermain mengajakku join ke game CS.
“Nanti, aku dan Ivan mau ngetik
cerpen dulu.”
Kemudian aku dan
Ivan mencari computer kosong, dan mulai menyalakannya.
“Van, aku tak tahu apa yang akan ku
tulis.”
“Mulai dari langkah pertama dong.
Pilih tema.”
Aku berpikir
sejenak untuk menncari sebuah tema. Namun rasanya pikiranku buntu.
“Aku bingung kok. Coba kau usul
tema.”
“Emmm…Bagaimana kalau…tema
olahraga,” saran Ivan benar-benar menyebalkan. Dia tak tau kalau aku benci
olahraga.
“Olahraga? Kalau temanya olahraga,
mungkin ceritanya begini. Ada orang bingung nyari tema buat cerpen, kemudian
temanya usul tema olahraga, kemudian yang usul tema olahraga dibunuh,
dimutilasi, terus dibuang ke sungai. Gimana?” Ivan terperanjak sejenak kemudian
tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha..Lucu
sekali kau ini. Oh iya, kenapa tak kau bikin cerpen yang lucu saja?”
“Cerpan lucu?
Tapi mana bisa aku mengarang kejadian lucu.”
“Kau ini
bagaimana? Barusan ini lucu lho.”
Aku pun diam
sejenak dan mulai berpikir. Ku resapi kalimat Ivan itu. Hingga akhirnya ak
mendapat sebuah ide. Aku tersenyum.
“Aha ! Yes ! Terimakasih Van.
Sudahlah kalau begitu kamu main CS saja.
Aku sudah punya ide. Nanti kalau sudah jadi aku kasih tahu kamu.”
“Okedeh..” Kemudian Ivan bangkit
dari kursi tempat duduknya dan mencari computer lain.
“Aku teroris !” Teriak Ivan pada
teman-teman lainnya.
Kemudian aku
mulai mengetik dan berkonsentrasi pada cerita pendek yang akan kubuat.
Satu jam
berlalu, akhirnya akku selesai juga. Kemudian aku berlari dari Lab menuju ke
ruang Jurnalis untuk mencetaknya. Aku memang dapat keluar masuk ruang jurnalis
karena aku menjabat sebagai Ketua di ekstrakurikuler Jurnalistik sekarang.
Setelah aku mencetaknya, kemudian
aku mengcopynya menjadi 3. Satu bagian aku kumpulkan diruang OSIS. Bagian
lainnya aku serahkan kepada Ivan dan aku simpan didalam tas ku. Lalu aku
berlari lagi kembali ke Lab.
Sesampainya di Lab aku berteriak
sehingga membuat Ivan yang sedang bermain Counter Strike terkejut.
****
“Van,Van ! Lihat ! Cerpenku sudah
jadi !” Kemudian aku menyerahkannya kepada Ivan.
Dia menghentikan
gamenya dan sepertinya dia tertarik melihat cerpenku dan langsung ingin
membacanya. Aku menunggu sampai Ivan selesai membacanya dan memberikan komentar
pada cerpen yang telah ku buat.
“Wah, sip Lah ! Ceritanya simple
tapi unik.” Dia mengatakan itu sambil tersenyum. Ivan seperti membaca teks
dialog dikertas itu .
Kenapa demikian?
Karena kalimat “Wah, sip Lah ! ceritanya simple tapi unik.” Ada pada cerpen yang yang aku ketik. Mungkin
semuanya akan penasaran pada isi cerpen
itu. Karena sebenarnya isi cerpen itu adalah yang dari tadi anda baca ! mulai
dari awal hingga akhir ini.

No comments:
Post a Comment