Puasa Asyuro si Pecandu
Oleh: M N Sholachuddin
“Hoeeek…” Suara muntah darahku yang ketiga kalinya
pada siang hari ini. Sudah satu minggu aku menderita penyakit ini. Dokter
bilang aku harus banyak-banyak istirahat. Memang mudah jadi dokter. Hanya
tinggal menempelkan stetoskop, menulis resep, langsung menerima bayaran. Hanya
dua kalimat yang dia tahu.
“Apa keluhan anda tuan?”
“Ini ditukar di Apotek, istirahat di
rumah ya..”
Aku memang pernah bercita-cita menjadi
seorang dokter. Namun, semua itu hanya angan-angan belaka. Semua itu hampir
terwujud sebelum aku mengenal si Dicky.
Dia aku kenal sejak semester dua di
kampus yang tak kusebut namanya. Awalnya aku kira dia sahabat yang akan
menemaniku di kampus itu. Ternyata dia Iblis yang akan menghancurkan hidupku.
Dia seorang bandar narkoba. Mungkin
bukan sepenuhnya salah dia. Salahku juga yang mau menerima ajakanya. Andai aku
bisa mengulang waktu, aku akan menolak ajakanya.
Dia telah menguras harta keluargaku
hanya untuk membeli Drugs. Dan kini aku dan Dicky telah dikeluarkan dari
Kampus.
Dicky masuk penjara, sementara aku masuk
panti rehabilitasi. Orang tuaku terlalu sibuk hingga tak tau keadaan anak
semata wayangnya.
Vonis mengidap HIV lah yang
menimpaku sekarang. Mungkin waktu tak dapat berputar kembali. Tapi masih belum
terlambat untuk berubah.
***
Hari demi hari gelap telah kulalui. Di
panti ini, aku menjadi sosok yang lebih religius. Pada tanggal 15 November 2012
ini aku melakukan puasa sunnah Muharram. Aku menjalankan puasa ini, banyak
pihak yang tak setuju atas tindakanku.
Baik Dokter, maupun teman-teman satu
panti ku. Cemo’oh dari banyak orang pun tak jarang aku telan setiap hari.
Namun semua ini kulakukan demi untuk
berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tak banyak yang tau, aku sang pecandu
ini pernah menimba ilmu di sekolah yang bernuansa agamis.
“Kamu masih belum sehat, fisikmu masih
lemah, sebaiknya kamu jangan berpuasa dulu…” kata salah seorang Dokter laki-laki
itu.
“Aku hanya ingin berubah dokter, kita
tak akan pernah tau kapan kita meninggal, barangkali ini adalah puasa terakhirku” bantahku pada Dokter.
Sang Dokter hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Puasa 1 Muharram ini aku jalani dengan
lancar. Kemudian aku melakukan puasa lagi pada tanggal 23 & 24 November.
Yakni puasa Tasyu’a & Asyuro. Saat puasa tanggal 24 kujalani, perutku
terasa sangat sakit. Muntah darah berkali-kali datang menyerang raga ini. Namun
aku tak menyerah. Aku akan melanjutkan puasa ini sampai mega merah datang.
Puasaku kali ini hanya ku jalani dengan
sahur sepiring nasi dengan air putih. Tanpa lauk sedikit pun karena saat shubuh
makanan belum tersedia.
Hingga akhirnya puasa pun dapat kujalani
dengan sempurna. Adzan maghrib telah berkumandang. Aku berdo’a sebelum
menyantap hidangan ini. Namun, kepalaku tiba-tiba pusing sekali.
Sebelum sempat kusantap hidangan di
depanku, aku tiba-tiba ambruk. Aku tak sadarkan diri. Semua yang melihatku
langsung terhentak menolongku.
Belum sempat aku berbuka puasa, aku
sudah koma. Didalam ketidak sadaranku, aku telah mengalami banyak perjalanan
sepiritual.
Aku mimpi bertemu dengan beberapa orang
Nabi. Diantaranya Nabi Yunus, Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Adam.
Entah bagaimana aku tahu nama mereka.
Mereka menunjukan padaku tentang hari Asyuro. Di saat Nabi Yunus keluar dari
perut ikan paus, Nabi Nuh selamat dari banjir bandang, Nabi Musa selamat dari
kejaran Fir’aun, Nabi Ibrahim selamat dari api Raja Namrut, dan Nabi Adam
bertemu Ibu Hawa.
Gambaran-gambaran yang kulihat seolah
nyata. Entah kenapa aku mengalami kejadian ini. Padahal aku termasuk orang
bejad dan terlaknat.
Aku orang yang telah berada pada jalur
setan. Kini aku mencoba merubah diriku kembali pada jalan yang benar.
Satu hari aku koma, akhirnya aku
tersadar. Mataku mulai terbuka. Tubuhku mulai bisa kugerakan. Saat kutoleh ke
samping terlihat keluargaku.
Mereka terkejut akan kesadaranku dan
langsung buru-buru memanggil Dokter. Baru bangun aku langsung di jejali
pertanyaan-pertanyaan Keluargaku yang menanyakan keadaanku.
Namun, Dokter meminta mereka supaya
meninggalkan ruangan agar tidak mengganggu pasien. Kemudian Dokter memeriksa
keadaanku.
Muka Dokter terlihat terkejut dan
bahagia. Dia tak menyangka akan yang ia lihat. Dokter pun memanggil keluargaku
dan membacakan hasil dari yang telah dia periksa.
“Alangkah terkejutnya kami selaku tim
Dokter mengetahui bahwa AIDS yang telah di derita putra bapak akhirnya
sembuh” kata salah seorang Dokter itu.
“Kami juga turut bahagia karena kami
telah berhasil menyembuhkan putra Bapak dan Ibu. Kini dia dapat beraktifitas
kembali” sambung Dokter di sebelahnya.
Alangkah bahagianya keluargaku dan aku
pun juga ikut senang mendengarnya. Dua pelajaran yang dapat aku petik dari
peristiwa ini.
“Pecandu narkoba itu bukan
tersangka. Kami hanya korban yang perlu mendapat perawatan.”
“Hal yang dijalani dengan niat yang
ikhlas, pasti akan mendapat barokah dari Allah SWT.”
***
Kini, aku telah mendapat banyak
pelajaran. Aku pun kembali melanjutkan Kuliyahku di Universitas lain.
Kini aku telah menyandang gelar Dokter.
Sekarang gantian aku yang mengobati pasien. Cita-citaku akhirnya dapat kuraih.
Semua ini karena Allah SWT.

No comments:
Post a Comment