Wednesday, January 1, 2014

Puasa Asyuro si Pecandu


Puasa Asyuro si Pecandu
Oleh: M N Sholachuddin

“Hoeeek…” Suara muntah darahku yang ketiga kalinya pada siang hari ini. Sudah satu minggu aku menderita penyakit ini. Dokter bilang aku harus banyak-banyak istirahat. Memang mudah jadi dokter. Hanya tinggal menempelkan stetoskop, menulis resep, langsung menerima bayaran. Hanya dua kalimat yang dia tahu.
“Apa keluhan anda tuan?”
“Ini ditukar di Apotek, istirahat di rumah ya..”
Aku memang pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun, semua itu hanya angan-angan belaka. Semua itu hampir terwujud sebelum aku mengenal si Dicky.
Dia aku kenal sejak semester dua di kampus yang tak kusebut namanya. Awalnya aku kira dia sahabat yang akan menemaniku di kampus itu. Ternyata dia Iblis yang akan menghancurkan hidupku.
Dia seorang bandar narkoba. Mungkin bukan sepenuhnya salah dia. Salahku juga yang mau menerima ajakanya. Andai aku bisa mengulang waktu, aku akan menolak ajakanya.
Dia telah menguras harta keluargaku hanya untuk membeli Drugs. Dan kini aku dan Dicky telah dikeluarkan dari Kampus.
Dicky masuk penjara, sementara aku masuk panti rehabilitasi. Orang tuaku terlalu sibuk hingga tak tau keadaan anak semata wayangnya.
Vonis mengidap HIV lah yang menimpaku sekarang. Mungkin waktu tak dapat berputar kembali. Tapi masih belum terlambat untuk berubah.
***
Hari demi hari gelap telah kulalui. Di panti ini, aku menjadi sosok yang lebih religius. Pada tanggal 15 November 2012 ini aku melakukan puasa sunnah Muharram. Aku menjalankan puasa ini, banyak pihak yang tak setuju atas tindakanku.
Baik Dokter, maupun teman-teman satu panti ku. Cemo’oh dari banyak orang pun tak jarang aku telan setiap hari.
Namun semua ini kulakukan demi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tak banyak yang tau, aku sang pecandu ini pernah menimba ilmu di sekolah yang bernuansa agamis.
“Kamu masih belum sehat, fisikmu masih lemah, sebaiknya kamu jangan berpuasa dulu…” kata salah seorang Dokter laki-laki itu.
“Aku hanya ingin berubah dokter, kita tak akan pernah tau kapan kita meninggal, barangkali ini  adalah puasa terakhirku” bantahku pada Dokter. Sang Dokter hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Puasa 1 Muharram ini aku jalani dengan lancar. Kemudian aku melakukan puasa lagi pada tanggal 23 & 24 November. Yakni puasa Tasyu’a & Asyuro. Saat puasa tanggal 24 kujalani, perutku terasa sangat sakit. Muntah darah berkali-kali datang menyerang raga ini. Namun aku tak menyerah. Aku akan melanjutkan puasa ini sampai mega merah datang.
Puasaku kali ini hanya ku jalani dengan sahur sepiring nasi dengan air putih. Tanpa lauk sedikit pun karena saat shubuh makanan belum tersedia.
Hingga akhirnya puasa pun dapat kujalani dengan sempurna. Adzan maghrib telah berkumandang. Aku berdo’a sebelum menyantap hidangan ini. Namun, kepalaku tiba-tiba pusing sekali.
Sebelum sempat kusantap hidangan di depanku, aku tiba-tiba ambruk. Aku tak sadarkan diri. Semua yang melihatku langsung terhentak menolongku.
Belum sempat aku berbuka puasa, aku sudah koma. Didalam ketidak sadaranku, aku telah mengalami banyak perjalanan sepiritual.
Aku mimpi bertemu dengan beberapa orang Nabi. Diantaranya Nabi Yunus, Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Adam.
Entah bagaimana aku tahu nama mereka. Mereka menunjukan padaku tentang hari Asyuro. Di saat Nabi Yunus keluar dari perut ikan paus, Nabi Nuh selamat dari banjir bandang, Nabi Musa selamat dari kejaran Fir’aun, Nabi Ibrahim selamat dari api Raja Namrut, dan Nabi Adam bertemu Ibu Hawa.
Gambaran-gambaran yang kulihat seolah nyata. Entah kenapa aku mengalami kejadian ini. Padahal aku termasuk orang bejad dan terlaknat.
Aku orang yang telah berada pada jalur setan. Kini aku mencoba merubah diriku kembali pada jalan yang benar.
Satu hari aku koma, akhirnya aku tersadar. Mataku mulai terbuka. Tubuhku mulai bisa kugerakan. Saat kutoleh ke samping terlihat keluargaku.
Mereka terkejut akan kesadaranku dan langsung buru-buru memanggil Dokter. Baru bangun aku langsung di jejali pertanyaan-pertanyaan Keluargaku yang menanyakan keadaanku.
Namun, Dokter meminta mereka supaya meninggalkan ruangan agar tidak mengganggu pasien. Kemudian Dokter memeriksa keadaanku.
Muka Dokter terlihat terkejut dan bahagia. Dia tak menyangka akan yang ia lihat. Dokter pun memanggil keluargaku dan membacakan hasil dari yang telah dia periksa.
“Alangkah terkejutnya kami selaku tim Dokter mengetahui bahwa AIDS yang telah di derita putra bapak akhirnya sembuh” kata salah seorang Dokter itu.
“Kami juga turut bahagia karena kami telah berhasil menyembuhkan putra Bapak dan Ibu. Kini dia dapat beraktifitas kembali” sambung Dokter di sebelahnya.
Alangkah bahagianya keluargaku dan aku pun juga ikut senang mendengarnya. Dua pelajaran yang dapat aku petik dari peristiwa ini.
“Pecandu narkoba itu bukan tersangka. Kami hanya korban yang perlu mendapat perawatan.”
“Hal yang dijalani dengan niat yang ikhlas, pasti akan mendapat barokah dari Allah SWT.”
***
Kini, aku telah mendapat banyak pelajaran. Aku pun kembali melanjutkan Kuliyahku di Universitas lain.
Kini aku telah menyandang gelar Dokter. Sekarang gantian aku yang mengobati pasien. Cita-citaku akhirnya dapat kuraih. Semua ini karena Allah SWT.

No comments:

Post a Comment