Wednesday, January 22, 2014

Happy Birthday's Arum Kamila


Happy Birthday’s Arum Kamila
Oleh: M N Sholachuddin

Kukira cinta pertama akan selamanya bersamaku. Ternyata aku salah.Bahkan dia menyakitiku.Aku memang membencinya. Tapi aku tak akan menyalahkan wanita sepenuhnya.Mungkin aku yang salah karena mencintainya pada saat dia kelas 6 SD. Padahal aku sudah 3 SMP.Benar-benar selisih yang jauh menurut teman-temanku.Hinggamerekamenyebutku pedofil.
Padahal dulu dia pernah berjanji akan bersamaku sampai kapanpun. Tapi bodohnya aku termakan kemunafikan anak SD. Janji palsu anak labil itu benar-benarmenyakitiku.Aku bahkan sampai menangis.Siapa orang yang tak sakit hati ketika dipermainkan hatinya.Apalagi cinta pertama.
Tapi aku beruntung pada saat itu masih ada orang yang perhatian padaku.Sebut saja Melly.Tapi aku tak mencintainya.Karena dia mencoba mendekatiku saat aku sudah memiliki Anita.Cinta pertama yang ternyata hanya pura-pura mencintaiku.Aku takmencintainya karena aku punya prinsip.
“Kalau dia bisa meninggalkan kekasihnya demi kamu, dia pasti bisa meninggalkanmu juga.”Tapi lagi-lagi prinsipku itu salah.Ternyata dia benar-benar tulus mencintaiku.Hingga membuat aku jatuh cinta kepadanya. Dia bahkan rela melakukan apa saja demi aku. Aku pun pernah bilang akan selamanya sama dia, sampai kapanpun.
Namun ini ketiga kalinya aku salah.Setelah 8 bulan hubungan ini kujalani, Anita datang lagi ke hidupku.Dan entah kenapa tiba-tiba aku mencintainya untuk kedua kalinya.Memang benar kata orang.
“Cinta pertama sulit dilupakan.”Awalnya aku hanya berteman dengan Anita.Tapi aku tak tahu kenapa tiba-tiba dia bilang padaku tentang perasaanya.
“Semalam aku tak bisa tidur memikirkanmu.”Dia mengatakan itu lewat SMS setelah aku ikut pengajian di rumahnya pada acara selapan bayi. Keponakan pertamanya telah lahir dan diberi nama Muhammad Arsyid Arsyada.Sangat tampan seperti kakak Anita.Mungkin itu alasanku mencintainya.Karena kakaknya tampan.
Hingga akhirnya makin lama cintaku kepada Melly makin surut gara-gara Anita,mantan adik kelas Melly waktu SD. Awalnya aku tak percaya dengan kata Anita yang bilang mencintaiku. Tapi dia bilang dia akan membuktikanya.Dia mau melakukan apapun yang kuminta dan memberikan apapun yang kumau.
Aku hanya ingin bertemu denganya.Dan hanya warnet lah menurutku tempat yang tepat pada saat itu.Aku tak percaya aku lakukan hal ini.Padahal pada saat itu Melly masih berstatus sebagai kekasihku.Dulu aku takut Melly meninggalkanku seperti yang dia lakukan kepada kekasihnya dulu.Tapi malah aku sendiri yang tega melakukan ini.
Tanpa sadar akhirnya kucari masalah sehingga seolah kami putus karena bertengkar.Dan akhirnya setelahputus, barulah lembaranbaru kujalani dengan Anita.Aku lupakan Melly begitu saja tanpa rasa dosa sedikitpun.Dan ternyata Anita sudah dewasa dan tak labil seperti dulu.Ternyata memang benar seperti yang kubilang dulu.
“Cinta pertama akan selamanya bersamaku.”Aku bersamanya meskipun hanya satu halangan yang kami hadapi.Dia belum boleh pacaran.Apalagi rumah kami hampir berdekatan. Aku takut hubungan ini tak sampai apa yang kami inginkan.
Berhari-hari kami jalani dengan kemesraan, hubungan sembunyi-sembunyi ini akhirnya ketahuan kakaknya nomer dua. Dengan perasaan was-was akhirnya Anita SMS aku.
“Gimana ini?Masku tahu.Nanti pasti diaduin ke orang tuaku.”
“Begini saja, sekarang kita putus.Jadi kalau ditanya kan bisa jawab tidak punya pacar.”Jawabku memberi solusi.Anita mengiyakan dan aku merasa takut jika hubungan ini berakhir.Berjam-jam kutunggu sms masuk darinya, namun tak kunjung ada hingga aku terlelap.
***
Kubangun dengan perasaan sedih, masih khawatir dan kebingungan.Setelah aku sholat shubuh, aku mencoba melihat HPku.Ternyata ada SMS masuk dan aku harap itu darinya.Tapi ternyata bukan. Ternyata dari nomer tanpa nama. Setelah kubuka, isinya lebih mengejutkan.
“Jangan dekati Anita lagi.Biarkan dia belajar.Saya tahu kamu suka dia. Tapi dia masih kecil dan masih harus belajar.Apa kamu tidak mengurusi pelajaranmu? Kasihan orang tuamu. Saya Ayahnya Anita.”Ternyata itu SMS dari Ayahnya Anita.Seraya aku langsung deg-degan ketakutan kubanting HP dan sangat takut seperti melihat hantu.Mungkin aku terlalu lebay.Tapi memanggil itu yang terjadi.
Tapi aku hanya bisa berharap semoga dia segera menghubungiku memakai HP lain. Aku ingat itu karena itu terjadi saat liburan sekolah.Jadi aku tak bisa berharap banyak.Hingga akhirnya kuhubungi teman sekolahnya di SMP, untuk menyuruh Anita SMS aku.Tapi katanya HPnya Anita disita dan dia tak ingin hubungi aku lagi.Malahan temanya dimarahi ketika menyebut namaku.
Sungguh aku tak menyangka Anita seperti ini.Cinta yang aku berikan selama ini dibuang untuk kedua kalinya.Aku merasa bodoh.Kutinggalkan orang yang benar-benar saying kepadaku hanya demi si munafik labil ini.Aku sakit hati karena Anita, dan Melly datang menyembuhkan aku.Tapi bodohnya kutinggalkan obat hatiku ini demi orang yang akhirnya meninggalkanku lagi.Dalam tangisan hatiku, aku mendapatkan sebuah pelajaran.
“Sekali dia menipumu, pasti aka nada yang kedua kalinya.”Aku tak tau kemana lagi aku harus bersandar.Aku rasa tak ada wanita lagi yang dekat denganku.Bahkan Melly sudah punya pacar lagi.Meskipun aku sudah tak cinta lagi denganya, tapi aku butuh seseorang sepertinya.Tapi mungkin inilah yang namanya karma.Dan memang ini yang harus kujalani meski sesak terasa di dada, dan sesal terasa di jiwa.Aku hanya berharap waktu dapat terulang kembali dan tak menyia-nyiakan orang yang menyayangiku.
***
Waktu terus berjalan, aku termenung dalam kesedihan dan penyesalan. Tapi aku mencoba melupakan hal itu dan mencoba menghibur diri dengan acara Stand Up Comedy di TV. Aku selalu tertawa dan sejenak melupakan sakit hatiku.
Aku berencana melakukan Stand Up Comedy. Kupelajari tehniknya, dan aku berencana ikut komunitasnya di Kudus.Setelah aku cari-cari, ternyata belum ada.Aku punya ide membuat komunitas itu di Kudus.Kugandeng beberapa temanku, dan mulai dari membuat fanpage.Dari situlah cikal bakal comic-comic di Kudus. Setelah menggaet beberapa anggota, singkat cerita komunitas Stand Up Comedy Kudus mulai ngeboming di Kudus.
***
Rabu, 26 Juni adalah hari bersejarah karena salah satu kampus di Kudus mengadakan lomba Stand Up Comedy di Kudus untuk pertama kalinya.Sangat keren karena tingkat SMA sekaresidenan Pati. Wow! Pesertanya pun puluhan orang.Tapi aku yakin dapat mengalahkanya.
“Kita panggilkan peserta nomer urut 8.Colah!”Sambut kedua MC dari kampus itu.Rasa deg-degan kembali muncul. Akhirnya kumulai beraksi dengan gaya khasku. Memakai baju kuning, jaket hitam tanpa kututup resletingnya.Belum 1 menit aku sudah mendapat perhatian.Apalagi dengan materi pertamaku.
“Menyapa buat orang tersayang say atau yang. Kalau buar orang tercinta cin. Kalau buat orang yang suka gimana? Hai SU!” setelah kugunakan materi andalan itu, seisi kampus mulai memerhatikan aku. Mereka mengikuti aksiku dari awal sampai akhir. Bahkan dewan juri pun sampai ikut berteriak heboh.
“Ayo! Hajar!” Akhirnya setelah seluruh peserta selesai menampilkan aksinya, tibalah sesi pengumuman. Akan diumumkan 3 besar untuk maju ke babak beriktnya. Aku pikir tadi penampilanku. Aku terkejut ketika tahu bahwa 3 peserta yang masuk harus menampilkan pertunjukan baru.
“Waduh! Kalau begini caranya lebih baik aku tidak masuk Final. Aku belum menyiapkan materi apapun.” Gumamku dalam hati. Tapi aku hanya bisa berdo’a. Aku tak akan menyerah. Akhirnya sesi pengumuman tiba.
“Yang masuk 3 besar adalah... nomer urut 8, 9, dan 10!” Apa?! Aku masuk? Alhamdulillah Ya Allah. Dan seperti yang aku tebak di hari sebelumnya, saingan terberatku juga masuk. Kukuh dan Galih. Mereka satu sekolahan dan dari kota Jepara. Aku yakin pasti aku kalah terhadap Galih yang menurutku hebat itu.
Kemudian kami masuk ruang isolasi dan dijelaskan tata cara serta pengambilan nomer urut. Kuambil duluan, diikuti Kukuh dan Galih. Galih membuka duluan diikuti Kukuh.
“Aku nomer 2” kata Galih dengan wajah tenang.
“Yes! Aku 3” Kukuh bahagia karena dia terakhir. Dan sial sekali. Aku harap aku nomer 4. Tapi tak mungkin. Ternyata aku benar-benar nomer 1. Hingga aku tak tahu harus ngomong apa di panggung nanti. Beruntung ada selingan dari komunitas, sehingga aku dapat sedikit bernafas lega.
Tak lama, waktuku maju tiba. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya pasrah dan menampilkan materi ala kadarnya. Kulepas jaket hitamku, kuambil kacamata properti, dan aku berjalan perlahan ke panggung.
“Santai Col, kamu bisa.” Galih memberi semangat padaku. Aku hanya berterimakasih padanya. Dan mulai naik kepanggung untuk beraksi. Namun kali ini aku tak beruntung. Hanya sedikit tawa yang kudapat. Apalagi di akhir aku sempat ngeblank. Akhirnya aku turun panggung dalam keadaan kecewa. Aku pasti tak bisa juara 1. Mungkin juara 1 Galih. Aku hanya juara 2 atau 3.
***
Sekarang hari Kamis dan siang ini pengumuman juara di kampus itu. Aku hanya bisa berdo’a saja. Hingga akhirnya juara-juara dipanggil.
“Juara yang ketiga adalah... Indriya Galih Prayughi!” Teriak sang MC membuatku terkejut. Kenapa Galih juara 3? Padahal bagiku dialah saingan terberatku.
“Juara yang kedua adalah... Kukuh Mukty Wibowo!” Apa? Kukuh? Mungkin aku juara 4. Aku percaya.
“Dan juara yang kita tunggu. Juara pertama adalah... Mohammad Noor Sholachuddin!” Aku tak percaya aku mengalahkan mereka. Aku sangat bersyukur kepada Allah. Kulihat penonton kepada kami. Padahal tak ada satu pun yang kukenal. Tapi setelah itu, aku menikmati pertunjukan grup band Tipe-X disana. Sungguh senang saat itu.
***
Tak kurasa aku sampai jam 5 sore. Aku lupa kalau aku diberi amanat setelah maghrib aku diminta ikut membantu lomba rebana di desaku. Aku diminta kakaknya Pipin. Salah satu temanku yang juga comic di komunitas. Aku dan Pipin ditugasi menjaga lampu untuk perlombaan. Karena itu diikuti oleh se Kudus, suasana balai desa sangat ramai sekali. Tiba-tiba Pipin mengejutkanku.
            “Heh, itu siapa? Aku lupa.” Kata Pipin sambil menunjuk ke pintu masuk balai desa. Ternyata ada sosok perempuan yang cantik dengan penampilan yang cukup menggoda kami berdua.
“Mana? Oh itu kan adik kelasmu waktu SD.” Jawabku santai.
“Iya sudah tahu. Kan adik kelasmu juga. Namanya kok.”
“Arum. Masak lupa. Padahal dia kelas A sama kaya kamu. Aku kan B.”
“Sekarang dia cantik ya...” Puji Pipin terhadapnya. Aku hanya bisa tersenyum. Memang dia paling cantik di kelasnya dulu. Tapi tak sedikitpun aku punya rasa padanya. Mungkiin karena dia sangat cerewet. Tapi bodohnya, Pipin baru sadar dia cantik setelah dewasa. Padahal aku sudah bisa melihatnya dari dulu.
Tapi aku tak terlalu mengingat gadis itu. Aku hanya khawatir karena setelah ini aku diminta menampilkan Stand Up Comedy. Padahal sempat aku menolak, tapi keadaan terpaksa hingga akhirnya aku menghibur warga desaku disana. Dan memang lumayan banyak yang tertawa. Hingga aku dapat pulang kerumah dengan bahagia.
***
Lama kujalani hari-hari dengan sendiri, tak serasa kesedihanku lebur karena Stand Up Comedy. Aku bersyukur sudah bisa berkreasi lewat komunitas yang aku dan teman-temanku lahirkan ini. Tapi makin lama, kosongnya hati iini mulai terasa. Aku tak tahu siapa lagi yang akan mengisinya. Hari-hari aku selalu membuat status bergenre galau. Hingga salah satu statusku dikomentari seseorang. Dialah gadis cantik yang kulihat di balai desa.
“Wah, ini artisnya kemarin” Wow! Aku hanya tersenyum membacanya. Aku mulai berbalas-balasan di komentar itu. Semenjak hari itu, aku sering menstalking Facebooknya. Komentarku selalu hadir di setiap statusnya. Sepertiinya aku mulai menyukainya. Aku pun mulai memberanikan diri meminta nomer Hpnya lewat inbox Facebook. Beruntung sekali dia memberinya. Kucoba sering SMS dia, tapi tanpa basa-basi. Mungkin hanya sekedar bernostagia mengingat masa lalu ketika masih SD. Dia sih ramah. Tapi dia lumayan cuek. Mungkin susah aku mendapatkanya. Atau bahkan hanya dalam mimpi.
Semakin hari, Arum semakin membuatku jatuh cinta. Kami juga bercerita tentang hoby kami. Dia suka menyanyi dan musik reggae, aku suka Stand Up Comedy. Aku merasa cocok denganya. Sudah cantik, berbakat, yang paling penting dia anak Madrasah sama sepertiku dulu. Tapi sampai saat ini aku belum tau dia sudah punya pacar atau belum.
Akhirnya aku berniat membuat pertanyaan tersirat untuk mengetahui jawabanya.
“Ayo nonton Stand Up Comedy Spesial Ramadhan.” Ajakku lewat SMS.
“Diamana? Jam berapa? Kapan?”
“Ngabuburit, jam 4 sore di dekat GOR, besok senin. Aku tampil lho.”
“Insya’allah ya, kalau ada temanya.”
“Sama pacarmu ra...”
“Dia mana mau kaya gitu. Paling sukanya rebana.” Sekarang aku tahu Arum sudah memiliki kekasih. Aku cemburu sesaan karena aku juga mencintainya. Tapi aku coba tersenyum. Aku ingat kata temanku.
“Lebih enak deketin orang yang sudah punya pacar. Sainganya cuma satu” Apalagi menurutku jarang ada hubungan yang abadi. Lama kelamaan akan kandas juga.
Meski sebagai teman, cintaku padanya tak surut sedikitpun. Dan aku pun merasa ada yang berubah dari Arum semenjak dia menontonku saat ngabuburit itu. Tapi perubahan itu malah lebih baik. Dia menjadi tak cuek lagi terhadapku. Dia selalu membalas SMSku. Seolah dia juga membutuhkanku.
Selidik aku lakukan hingga aku ketahui ternyata dia sedang LDR. Hubungan jarak jauh dengan pacarnya yang sekarang bekerja di Jakarta. Tapi makin hari, kekasihnya juga berubah. Menjadi jarang memberi kabar hingga membuat Arum bersedih. Aku merasa kasihan padanya. Hingga aku hanya dapat menghiburnya saja.
“Aku akan menemani kamu sampai kapanpun kok. Sampai kamu tak butuh aku lagi.” Aku mengatakan itu dengan tulus dari hatiku karena aku benar-benar mencintainya. Tapi tak sedikitpun dia memberi tanda cinta padaku.
Arum sering sedih bahkan sampai menangis ketika curhat kepada kakak sepupunya tentang pacarnya. Benar-benar jarang bahkan seminggu hampir tak menghubungi Arum. Aku hanya menyuruhnya bersabar. Tapi dia juga wanita yang setia. Dia tetap saja percaya pada kekasihnya itu. Aku pun makin sebal ketika mendengar cerita itu. Tak mungkin kalau masih sayang bisa segitunya. Tega sekali kekasihnya itu. Aku berharap hubungan mereka hancur.
“Jahat sekali diriiku ini. Egois!” Aku marah pada diriku sendiri. Tapi aku begitu berharap Arum bahagia. Tak apa dia sama pacarnya. Tapi aku tak rela jika dia selalu bersedih. Aku pun berencana ingin menghibur dengan emnonton Stand Up Comedy. Katanya dia sama temanya. Tapi malah mendadak temanya membatalkan janjinya. Aku pun menawarkan jemputan. Dia awalnya ragu. Tapi akhirnya mau.
Saat aku menjemputnya di gang, “Wow!” sungguh aku terpesona melihat kecantikanya. Sayang sekali dia milik orang. Tapi aku hanya punya niat menghiburnya saja.
Dua kali aku melakukan hal itu, yang kedua dia dimarahi Ayahnya karena pulangnya terlalu malam. Dia dimarahi dan aku merasa sedih karena membuatnya menerima hal itu. Dan itu terakhir kalinya aku mengajaknya nonton Open Mic Stand Up Comedy.
Libur lebaran tiba, aku mengajaknya ke tempat yang tak terlupakan. Dia memang masih berstatus pacaran, tapi sampai saat itu pacarnya tak memberi kabar sama sekali. Akhirnya aku mengajaknya ke puncak. Dia mau saja asal tidak ke pegunungan Rahtawu. Karena disitulah dulu dia pergi bersama kekasihnya. Dia tak ingin mengingat hal itu. Aku pun menyanggupinya.
Akhirnya kami pergi ke bukit kajar. Hanya kami berdua dan sendiri. Aku ingin sekali mendengarnya, tapi aku malu. Hingga ada bapak-bapak usil menyuruhku menggandengnya.
“Sini, aku gandeng.” Ucapku sambil tersenyum. Dia merasa malu, aku pun demikian. Tapi dia tak menolak. Jemarinya terasa lembut sekali. Seperti tangan bidadari.  Aku bahagia saat itu. Dan kami pun bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari sekolah, hingga kekasihnya sekarang.
Setelah itu kami ke air terjun montel. Katanya ada mitos kalau orang pacaran kesana bisa putus, kalau jadian bisa langgeng, dan kalau tidak pacaran bisa jadian. Aku ajak kesana karena aku berharap suatu hari akan bersama dia.
Kemudian dia bercerita pernah kesini bersama seseorang yang mereka berdua saling mencintai. Tapi akhirnya pisah tanpa sebab. Mungkin karena mitos disini. Tapi aku tak percaya.
Hari-hari semakin berlalu. Dia masih belum diputuskan pacarnya. Tapi masih saja tanpa kontak. Aku makin lama makin tak suka dengan Arum. Aku merasa dipermainkan. Dia menggantungkan cintaku. Hingga akhirnya aku benar-benar ingin menghancurkan hubungan mereka.
Aku mulai menginbox pacarnya lewat akun Facebook teman perempuanku. Anehnya dia membalas. Padahal Arum tak dia SMS. Aku merasa kalau pacarnya sudah tak sayang Arum. Aku mencoba memberitahu Arum, tapi dia hanya menunggu keputusan dari kekasihnya itu. Dia memang benar-benar hebat. Bahkan kalau aku di posisinya aku tak akan setegar itu. Teman-temanku bilang, kalau dia setia sama pacarnya, dia pasti setia sama aku suatu saat nanti. Aku hanya bisa bilang “Amin.”
Dia sudah tau aku mencintainya. Tapi tak sedikitpun dia memberi tanda kepadaku. Dia tak menerimaku, juga tak menolakku. Seolah dia membutuhkanku hanya sebagai teman kalau butuh. Dia juga tak bilang ingin bersamaku kalau sudah putus. Karena tak ada jawaban, aku memilih menjauhinya untuk selamanya. Mungkin ini akibat mitos di Montel itu. Tapi entah kenapa belum 3 hari aku sudah merindukanya. Aku ingin membuktikan kalau mitos itu salah. Aku minta maaf ke dia dan dia juga bilang dia rindu aku. Hingga akhirnya dia memutuskan pacarnya itu. Tapi sungguh disayangkan karena tak ada tolakan sedikitpun dari pacarnya. Hingga akhirnya mereka putus. Aku pun kembali menginbox pacarnya itu, dan yang lebih membuatku marah, dia bilang kalau ternyata sudah bosan dengan Arum.
Saat dia putus, aku tak diberi tahu dia. Seolah dia juga tak ingin pacaran denganku. Hingga aku mengajukan pertanyaan rahasia melalui “Ask.FM”. Memang susah mendapat jawaban yang aku inginkan. Tapi aku tak terburu-buru. Aku tak sepenuhnya berpikir bagaimana mendapatkanya. Yang terpenting adalah bagaimana aku membuatnya bahagia.
Aku pernah berjanji padanya untuk tak mencintainya supaya kita tak saling tersakiti. Tapi karena sudah putus, aku bertanya apakah aku boleh mencintainya lagi? Ternyata dia membolehkan dan akhirnya kami jadian. Selain hari pahlawan, 10 November adalah hari keberhasilanku mendapatkan cintanya. Tinggal bagaimana aku membuat bidadariku bahagia.
***
Sudah hampir 2 bulan aku jalani hubungan dengan penuh kasih sayang. Makin hari aku makin sayang denganya. Dia juga sangat tulus. Meskipun dulu tak pernah memberi tanda sedikitpun kepadaku, ternyata cinta dan kasihnya lebih daari yang aku harapkan.
Sementara itu, karirku sebagai comic telah redup. Banyak yang berubah dariku. Hingga akhirnya aku keluar dari komunitas yang sempat aku pimpin meski dengan penuh kekuranganku. Tepat 5 Januari 2014 inilah aku close mic dari dunia comedy dan beralih hoby menulis cerpen.
Sementara itu, sekarang hampir mendekati milad sayangku Arum Kamila. Aku tak tau harus melakukan apa atau memberi apa supaya dia bahagia. Sempat saat aku ziarah ke makan Sunan Kudus, aku mengobrol dengan Wildan temanku.
“Wil, dia mau ulang tahun. Enaknya kasih apa?”
“Ya kasih sesuatu yang tak pernah dia lupakan dong.”
“Apa misalnya.”
“Seperti bayi” Aku tertawa di pinggir jalan mendengar jawaban ngawur itu. Maklum saja lucu. Dia juga comic di komunitas SUCIKU. Dalam keadaan bingung, aku masih tak tahu akan memberi dia kejutan apa. Hingga kemudian kulihat tanggal 15 Januari. Ternyata tak bisa kuberi kejutan hari itu. Satu-satunya adalah tanggal 14 januari karena bertepatan Maulid Nabi.
Aku bersyukur sekali dan kumulai membuat rencana. Aku ingin mengajaknya ke Taman Kajar lagi. Tempat dimana dulu aku berdua denganya. Namun kali ini aku membutuhkan temanku. Dan semoga saja rencanaku semua berhasil.
***
Aku bahagia menjadi diriku sekarang. Aku pernah berharap waktu dapat diulang kembali. Tapi ketika waktu tetap dijalani, justru akan mendapat hal yang lebih baik. Aku percaya semua akan indah pada waktunya. Meskipun pahit harus kita rasakan terlebih dahulu.
Aku pernah membenci mantan. Tapi tanpa mantan, aku tak akan mendapat cinta kasih setulus sekarang. Aku pernah tersakiti, dia pun begitu. Dan aku percaya obat sakit hati adalah mencintai orang yang pernah tersakiti hatinya juga. Orang pernah bilang, cinta pertama susah dilupakan. Tapi aku percaya cinta pertama dapat dikalahkan oleh cinta sejati.
Tanpa mantan, aku tak akan punya keinginan menjadi comic dan tak akan mungkin aku kenal Arum. Dan Arum pun bangga aku menjadi seorang comic. Tapi maaf aku harus mengecewakanya. Aku tak bangga menjadi comic. Tak bangga juga jadi penulis. Tapi aku bangga ketika jadi satu-satunya orang yang dapat membuatmu bahagia.
            Dari hati yang tersakiti, itulah langkah agar aku menjadi lebih dewasa. Di hari ulang tahunmu, aku berharap semua menjadi lebih indah. Aku juga berharap kamu menjadi lebih dewasa. Aku juga berharap hubungan kita abadi sampai maut memisahkan kita. Maaf aku tak bisa memberimu sesuatu yang indah. Sesuatu yang tak kau inginkan dan mungkin tak berguna bagimu. Tapi aku harap kenangan ini abadi dan akan ada cerita selanjutnya. Happy Birthday’s Arum Kamila.

Thursday, January 2, 2014

Makna Kehidupan



Makna Kehidupan
Oleh: M N Sholachuddin

Indahnya tahun baru 2014 meskipun pada detik pertamanya, alam menyambutnya dengan tangis haru. Suka cita dan bangga langit kota menyambutnya dengan turun Gerimis nan indah. Bak bidadari yang turun dari kayangan. Berjajar rapi beriringan seperti tarian air yang dapat membasahi kalbu.
Pagi itu hujan turun hampir dari seharian. Semua orang cemas akan cuaca pagi itu. Udara suci yang belum terjamah oleh manusia itu terpaksa harus bergulat dengan rentetan air kayangan. Dedaunan melihatnya dengan tatapan yang iri.
“Lihatlah mereka! Air dan udara sangat ramah. Tak seperti aku dan ulat pohon. Air dan udara bermadu kasih, menghasilkan buah karya indah yang disebut pelangi. Tapi, lihatlah aku ! lihatlah aku yang hanya menjadi makanan ulat. Padahal ulat hidupnya hanya bisa membuat manusia gatal.” Daun menggerutu sambil mengalirkan air yang sedari tadi menetesi tubuhnya hingga membuatnya seolah menari.
“Aku bangga kehadiranku ini membuat pohon yang aku tinggali ini menjadi berbuah. Tanpa aku, buah akan hancur terjatuh dan  tersapu angin. Dan tak bisa dimakan oleh manusia yang gemar merawatku. Tapi disisi lain, aku benci kenapa kehadiranku untuk dimakan ulat yang dapat membuat manusia bergidik. Kenapa Tuhan menciptakanku seperti ini? Tuhan pasti salah. Tuhan salah!” Bentak daun dengan keras. Saking kerasnya membuat tangkainya yang lunglai terputus dari batang pohonnya. Akhirnya daun itupun terpisah oleh angin yang berhembus saat fajar shodiq tiba.
Daun itupun terombang-ambing tertiup angin hingga tinggi sekali. Suara gemuruh halilintar bersahutan seolah murka terhadap daun yang tak ikhlas menjalani kehidupannya. Sangat menggelegar membuat daun yang tipis itu ketakutan hingga makin pipih.
“Kenapa aku harus takut dengan kalian? Aku tak punya urusan dengan halilintar. Aku hanya tak mengerti kenapa Tuhan menciptakan ulat.” Masih seperti tadi, daun itu terseret genggaman angin hingga daratan sudah tak kelihatan lagi. Daun itu terbawa keatas awan. Warna kelabu mendung perlahan mengikis. Transisi warna kelabu kehitaman bercahaya itu benar-benar membuat mata terpana.
Daun itu pun terkesima akan yang ia lihat sekarang. Apalagi perlahan langit malam  itu memancarkan corak pelangi. Goresan tinta gemerlap penuh warna menghiasi langit itu. Seperti kabut, namun indah bagai pelangi. Benda itu memang pelangi malam. Lebih sering disebut Aurora.
“Hai Aurora ! Tuhan menciptakanmu begitu indah. Tapi kenapa aku buruk kecil dan menjadi makanan ulat? Aku pikir Tuhan tak adil !” Daun berdesah mengungkapkan perasaannya yang gelisah kepada Aurora.
“Jika aku dapat memilih, aku lebih ingin menjadi daun. Untuk apa aku indah jika aku jarang terlihat. Keindahanku juga terhalang oleh awan. Tak ada yang dapat aku banggakan.” Daun pun merenung terpukau. Daun tak mengerti akan ciptaan Tuhan. Daun pun bergumam.
“Sebenarnya untuk apa kita diciptakan? Aurora pun tak bangga aku pun tak tahu kenapa aku diciptakan sebagai makanan ulat. Aku yakin Tuhan memang benar-benar salah.” Hingga lambat laun angin mulai berhembus pelan. Hingga membuat daun turun dengan perlahan. Sampai akhirnya daun itu mendarat ditaman yang basah bekas tetesan air hujan.
Kemudian matahari pagi mulai menyongsong hari. Kicau burung nan merdu bak lantunan  penyair. Daun melihatnya dengan cemburu.
“Benar-benar indah pagi ini. Aku jadi ingin seperti burung-burung. Berkiacau ria, berkembang biak, dan dapat memburu ulat.” Daun sadar akan indahnnya pagi. Hingga dia tetap dapat merasa gembira walaupun dalam perasaan hambar.
Kemudian lewatlah seekor kupu-kupu yang mengepakkan kedua sayapnya. Begitu indah corak sayapnya hingga membuat daun  yang terbaring itu berdecak kagum.
“Indah sekali. Manusia pasti senang melihatmu kupu-kupu. Apalagi karena kupu-kupu terjadi perkembang biakan sebuah pohon yang kemudian dirawat manusia. Tapi bukankah kupu-kupu dulunya ulat pemakan daun?” Daun pun kini menyadarinya. Ulat yang sering dia kutuk, kini menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu yang hidup dari tangkai ke tangkai, membawa serbuk sari, dan membuat pohon baru tumbuh.
“Aku salah tentang Tuhan. Aku hanya tak tahu apa-apa tentang makna kehidupan ini. Aku memang bodoh! Kini aku rela tubuhku dimakan ulat. Biar ulat tumbuh menjadi kupu-kupu, membawa kehidupan pohon baru, dan akhirnya tumbuh daun-daun yang baru. Daun akan ada disetiap pohon. Dirawat manusia dan membawa ketentraman bagi semua makhluk dimuka bumi. Kita memang diciptakan berdampingan. Dan sekarang baru kusadari hal itu. Hidup ini indah dan bahkan kini aku rela tubuhku dimakan ulat jika itu membuat alam sememesta menjadi lebih indah.” Kata daun itu dalam hatinya dan merenungi penyesalannya.
Kemudian semakin lama waktu berjalan, kesegaran daun itu mulai memudar. Yang awalnya hijau menjadi kuning. Hingga akhirnya daun itu terinjak-injak hingga menjadi sebuah debu.