Happy Birthday’s Arum Kamila
Oleh:
M N Sholachuddin
Kukira
cinta pertama akan selamanya bersamaku. Ternyata aku salah.Bahkan dia
menyakitiku.Aku memang membencinya. Tapi aku tak akan menyalahkan wanita
sepenuhnya.Mungkin aku yang salah karena mencintainya pada saat dia kelas 6 SD.
Padahal aku sudah 3 SMP.Benar-benar selisih yang jauh menurut
teman-temanku.Hinggamerekamenyebutku pedofil.
Padahal
dulu dia pernah berjanji akan bersamaku sampai kapanpun. Tapi bodohnya aku
termakan kemunafikan anak SD. Janji palsu anak labil itu
benar-benarmenyakitiku.Aku bahkan sampai menangis.Siapa orang yang tak sakit
hati ketika dipermainkan hatinya.Apalagi cinta pertama.
Tapi
aku beruntung pada saat itu masih ada orang yang perhatian padaku.Sebut saja
Melly.Tapi aku tak mencintainya.Karena dia mencoba mendekatiku saat aku sudah
memiliki Anita.Cinta pertama yang ternyata hanya pura-pura mencintaiku.Aku
takmencintainya karena aku punya prinsip.
“Kalau
dia bisa meninggalkan kekasihnya demi kamu, dia pasti bisa meninggalkanmu
juga.”Tapi lagi-lagi prinsipku itu salah.Ternyata dia benar-benar tulus
mencintaiku.Hingga membuat aku jatuh cinta kepadanya. Dia bahkan rela melakukan
apa saja demi aku. Aku pun pernah bilang akan selamanya sama dia, sampai
kapanpun.
Namun
ini ketiga kalinya aku salah.Setelah 8 bulan hubungan ini kujalani, Anita datang
lagi ke hidupku.Dan entah kenapa tiba-tiba aku mencintainya untuk kedua
kalinya.Memang benar kata orang.
“Cinta
pertama sulit dilupakan.”Awalnya aku hanya berteman dengan Anita.Tapi aku tak
tahu kenapa tiba-tiba dia bilang padaku tentang perasaanya.
“Semalam
aku tak bisa tidur memikirkanmu.”Dia mengatakan itu lewat SMS setelah aku ikut
pengajian di rumahnya pada acara selapan
bayi. Keponakan pertamanya telah lahir dan diberi
nama Muhammad Arsyid Arsyada.Sangat tampan seperti kakak Anita.Mungkin itu
alasanku mencintainya.Karena kakaknya tampan.
Hingga
akhirnya makin lama cintaku kepada Melly makin surut gara-gara Anita,mantan
adik kelas Melly waktu SD. Awalnya aku tak percaya dengan kata Anita yang
bilang mencintaiku. Tapi dia bilang dia akan membuktikanya.Dia mau melakukan
apapun yang kuminta dan memberikan apapun yang kumau.
Aku
hanya ingin bertemu denganya.Dan hanya warnet lah menurutku tempat yang tepat
pada saat itu.Aku tak percaya aku lakukan hal ini.Padahal pada saat itu Melly
masih berstatus sebagai kekasihku.Dulu aku takut Melly meninggalkanku seperti
yang dia lakukan kepada kekasihnya dulu.Tapi malah aku sendiri yang tega
melakukan ini.
Tanpa
sadar akhirnya kucari masalah sehingga seolah kami putus karena bertengkar.Dan
akhirnya setelahputus, barulah lembaranbaru kujalani dengan Anita.Aku lupakan
Melly begitu saja tanpa rasa dosa sedikitpun.Dan ternyata Anita sudah dewasa
dan tak labil seperti dulu.Ternyata memang benar seperti yang kubilang dulu.
“Cinta
pertama akan selamanya bersamaku.”Aku bersamanya meskipun hanya satu halangan
yang kami hadapi.Dia belum boleh pacaran.Apalagi rumah kami hampir berdekatan.
Aku takut hubungan ini tak sampai apa yang kami inginkan.
Berhari-hari
kami jalani dengan kemesraan, hubungan sembunyi-sembunyi ini akhirnya ketahuan kakaknya nomer
dua. Dengan perasaan was-was akhirnya Anita SMS aku.
“Gimana
ini?Masku tahu.Nanti pasti diaduin ke orang tuaku.”
“Begini
saja, sekarang kita putus.Jadi kalau ditanya kan bisa jawab tidak punya
pacar.”Jawabku memberi
solusi.Anita mengiyakan dan aku merasa takut jika hubungan ini
berakhir.Berjam-jam kutunggu sms masuk darinya, namun tak kunjung ada hingga
aku terlelap.
***
Kubangun
dengan perasaan sedih, masih khawatir dan kebingungan.Setelah aku sholat
shubuh, aku mencoba melihat HPku.Ternyata ada SMS masuk dan aku harap itu
darinya.Tapi ternyata bukan. Ternyata dari nomer tanpa nama. Setelah kubuka,
isinya lebih mengejutkan.
“Jangan
dekati Anita lagi.Biarkan dia belajar.Saya tahu kamu suka dia. Tapi dia masih kecil dan masih harus belajar.Apa kamu tidak
mengurusi pelajaranmu? Kasihan orang tuamu. Saya Ayahnya Anita.”Ternyata itu
SMS dari Ayahnya Anita.Seraya aku langsung deg-degan ketakutan kubanting HP dan
sangat takut seperti melihat hantu.Mungkin aku terlalu lebay.Tapi memanggil itu
yang terjadi.
Tapi
aku hanya bisa berharap semoga dia segera menghubungiku memakai HP lain. Aku
ingat itu karena itu terjadi saat liburan sekolah.Jadi aku tak bisa berharap banyak.Hingga
akhirnya kuhubungi teman sekolahnya di SMP, untuk menyuruh Anita SMS aku.Tapi
katanya HPnya Anita disita dan dia tak ingin hubungi aku lagi.Malahan temanya
dimarahi ketika menyebut namaku.
Sungguh
aku tak menyangka Anita seperti ini.Cinta yang aku berikan selama ini dibuang
untuk kedua kalinya.Aku merasa bodoh.Kutinggalkan orang yang benar-benar saying
kepadaku hanya demi si munafik labil ini.Aku sakit hati karena Anita, dan Melly
datang menyembuhkan aku.Tapi bodohnya kutinggalkan obat hatiku ini demi orang
yang akhirnya meninggalkanku lagi.Dalam tangisan hatiku, aku mendapatkan sebuah
pelajaran.
“Sekali
dia menipumu, pasti aka nada yang kedua kalinya.”Aku tak tau kemana lagi aku
harus bersandar.Aku rasa tak ada wanita lagi yang dekat denganku.Bahkan Melly
sudah punya pacar lagi.Meskipun aku sudah tak cinta lagi denganya, tapi aku
butuh seseorang sepertinya.Tapi mungkin inilah yang namanya karma.Dan memang
ini yang harus kujalani meski sesak terasa di dada, dan sesal terasa di jiwa.Aku
hanya berharap waktu dapat terulang kembali dan tak menyia-nyiakan orang yang
menyayangiku.
***
Waktu
terus berjalan, aku termenung dalam kesedihan dan penyesalan. Tapi aku mencoba
melupakan hal itu dan mencoba menghibur diri dengan acara Stand Up Comedy di
TV. Aku selalu tertawa dan sejenak melupakan sakit hatiku.
Aku
berencana melakukan Stand Up Comedy. Kupelajari tehniknya, dan aku berencana
ikut komunitasnya di Kudus.Setelah aku cari-cari, ternyata belum ada.Aku punya
ide membuat komunitas itu di Kudus.Kugandeng beberapa temanku, dan mulai dari
membuat fanpage.Dari situlah cikal bakal comic-comic di Kudus. Setelah menggaet
beberapa anggota, singkat cerita komunitas Stand Up Comedy Kudus mulai
ngeboming di Kudus.
***
Rabu,
26 Juni adalah hari bersejarah karena salah satu kampus di Kudus mengadakan
lomba Stand Up Comedy di Kudus untuk pertama kalinya.Sangat keren karena
tingkat SMA sekaresidenan Pati. Wow! Pesertanya pun puluhan orang.Tapi aku
yakin dapat mengalahkanya.
“Kita
panggilkan peserta nomer urut 8.Colah!”Sambut kedua MC dari kampus itu.Rasa
deg-degan kembali muncul. Akhirnya kumulai beraksi dengan gaya khasku. Memakai
baju kuning, jaket hitam tanpa kututup resletingnya.Belum 1 menit aku sudah
mendapat perhatian.Apalagi dengan materi pertamaku.
“Menyapa buat orang tersayang say atau yang. Kalau buar
orang tercinta cin. Kalau buat orang yang suka gimana? Hai SU!” setelah
kugunakan materi andalan itu, seisi kampus mulai memerhatikan aku. Mereka
mengikuti aksiku dari awal sampai akhir. Bahkan dewan juri pun sampai ikut
berteriak heboh.
“Ayo! Hajar!” Akhirnya setelah seluruh peserta selesai
menampilkan aksinya, tibalah sesi pengumuman. Akan diumumkan 3 besar untuk maju
ke babak beriktnya. Aku pikir tadi penampilanku. Aku terkejut ketika tahu bahwa
3 peserta yang masuk harus menampilkan pertunjukan baru.
“Waduh! Kalau begini caranya lebih baik aku tidak masuk
Final. Aku belum menyiapkan materi apapun.” Gumamku dalam hati. Tapi aku hanya
bisa berdo’a. Aku tak akan menyerah. Akhirnya sesi pengumuman tiba.
“Yang masuk 3 besar adalah... nomer urut 8, 9, dan 10!”
Apa?! Aku masuk? Alhamdulillah Ya Allah. Dan seperti yang aku tebak di hari
sebelumnya, saingan terberatku juga masuk. Kukuh dan Galih. Mereka satu
sekolahan dan dari kota Jepara. Aku yakin pasti aku kalah terhadap Galih yang
menurutku hebat itu.
Kemudian kami masuk ruang isolasi dan dijelaskan tata
cara serta pengambilan nomer urut. Kuambil duluan, diikuti Kukuh dan Galih.
Galih membuka duluan diikuti Kukuh.
“Aku nomer 2” kata Galih dengan wajah tenang.
“Yes! Aku 3” Kukuh bahagia karena dia terakhir. Dan sial
sekali. Aku harap aku nomer 4. Tapi tak mungkin. Ternyata aku benar-benar nomer
1. Hingga aku tak tahu harus ngomong apa di panggung nanti. Beruntung ada
selingan dari komunitas, sehingga aku dapat sedikit bernafas lega.
Tak lama, waktuku maju tiba. Aku tak tahu harus
bagaimana. Aku hanya pasrah dan menampilkan materi ala kadarnya. Kulepas jaket
hitamku, kuambil kacamata properti, dan aku berjalan perlahan ke panggung.
“Santai Col, kamu bisa.” Galih memberi semangat padaku.
Aku hanya berterimakasih padanya. Dan mulai naik kepanggung untuk beraksi.
Namun kali ini aku tak beruntung. Hanya sedikit tawa yang kudapat. Apalagi di
akhir aku sempat ngeblank. Akhirnya aku turun panggung dalam keadaan kecewa.
Aku pasti tak bisa juara 1. Mungkin juara 1 Galih. Aku hanya juara 2 atau 3.
***
Sekarang hari Kamis dan siang ini pengumuman juara di
kampus itu. Aku hanya bisa berdo’a saja. Hingga akhirnya juara-juara dipanggil.
“Juara yang ketiga adalah... Indriya Galih Prayughi!”
Teriak sang MC membuatku terkejut. Kenapa Galih juara 3? Padahal bagiku dialah
saingan terberatku.
“Juara yang kedua adalah... Kukuh Mukty Wibowo!” Apa?
Kukuh? Mungkin aku juara 4. Aku percaya.
“Dan juara yang kita tunggu. Juara pertama adalah...
Mohammad Noor Sholachuddin!” Aku tak percaya aku mengalahkan mereka. Aku sangat
bersyukur kepada Allah. Kulihat penonton kepada kami. Padahal tak ada satu pun
yang kukenal. Tapi setelah itu, aku menikmati pertunjukan grup band Tipe-X
disana. Sungguh senang saat itu.
***
Tak kurasa aku sampai jam 5 sore. Aku lupa kalau aku
diberi amanat setelah maghrib aku diminta ikut membantu lomba rebana di desaku.
Aku diminta kakaknya Pipin. Salah satu temanku yang juga comic di komunitas.
Aku dan Pipin ditugasi menjaga lampu untuk perlombaan. Karena itu diikuti oleh
se Kudus, suasana balai desa sangat ramai sekali. Tiba-tiba Pipin
mengejutkanku.
“Heh, itu siapa? Aku lupa.” Kata Pipin sambil menunjuk ke pintu masuk balai desa. Ternyata ada sosok perempuan yang cantik dengan penampilan yang cukup menggoda kami berdua.
“Heh, itu siapa? Aku lupa.” Kata Pipin sambil menunjuk ke pintu masuk balai desa. Ternyata ada sosok perempuan yang cantik dengan penampilan yang cukup menggoda kami berdua.
“Mana? Oh itu kan adik kelasmu waktu SD.” Jawabku santai.
“Iya sudah tahu. Kan adik kelasmu juga. Namanya kok.”
“Arum. Masak lupa. Padahal dia kelas A sama kaya kamu.
Aku kan B.”
“Sekarang dia cantik ya...” Puji Pipin terhadapnya. Aku
hanya bisa tersenyum. Memang dia paling cantik di kelasnya dulu. Tapi tak
sedikitpun aku punya rasa padanya. Mungkiin karena dia sangat cerewet. Tapi
bodohnya, Pipin baru sadar dia cantik setelah dewasa. Padahal aku sudah bisa
melihatnya dari dulu.
Tapi aku tak terlalu mengingat gadis itu. Aku hanya
khawatir karena setelah ini aku diminta menampilkan Stand Up Comedy. Padahal
sempat aku menolak, tapi keadaan terpaksa hingga akhirnya aku menghibur warga
desaku disana. Dan memang lumayan banyak yang tertawa. Hingga aku dapat pulang
kerumah dengan bahagia.
***
Lama kujalani hari-hari dengan sendiri, tak serasa
kesedihanku lebur karena Stand Up Comedy. Aku bersyukur sudah bisa berkreasi
lewat komunitas yang aku dan teman-temanku lahirkan ini. Tapi makin lama,
kosongnya hati iini mulai terasa. Aku tak tahu siapa lagi yang akan mengisinya.
Hari-hari aku selalu membuat status bergenre galau. Hingga salah satu statusku
dikomentari seseorang. Dialah gadis cantik yang kulihat di balai desa.
“Wah, ini artisnya kemarin” Wow! Aku hanya tersenyum
membacanya. Aku mulai berbalas-balasan di komentar itu. Semenjak hari itu, aku
sering menstalking Facebooknya. Komentarku selalu hadir di setiap statusnya.
Sepertiinya aku mulai menyukainya. Aku pun mulai memberanikan diri meminta
nomer Hpnya lewat inbox Facebook. Beruntung sekali dia memberinya. Kucoba
sering SMS dia, tapi tanpa basa-basi. Mungkin hanya sekedar bernostagia
mengingat masa lalu ketika masih SD. Dia sih ramah. Tapi dia lumayan cuek.
Mungkin susah aku mendapatkanya. Atau bahkan hanya dalam mimpi.
Semakin hari, Arum semakin membuatku jatuh cinta. Kami
juga bercerita tentang hoby kami. Dia suka menyanyi dan musik reggae, aku suka
Stand Up Comedy. Aku merasa cocok denganya. Sudah cantik, berbakat, yang paling
penting dia anak Madrasah sama sepertiku dulu. Tapi sampai saat ini aku belum
tau dia sudah punya pacar atau belum.
Akhirnya aku berniat membuat pertanyaan tersirat untuk
mengetahui jawabanya.
“Ayo nonton Stand Up Comedy Spesial Ramadhan.” Ajakku
lewat SMS.
“Diamana? Jam berapa? Kapan?”
“Ngabuburit, jam 4 sore di dekat GOR, besok senin. Aku
tampil lho.”
“Insya’allah ya, kalau ada temanya.”
“Sama pacarmu ra...”
“Dia mana mau kaya gitu. Paling sukanya rebana.” Sekarang
aku tahu Arum sudah memiliki kekasih. Aku cemburu sesaan karena aku juga
mencintainya. Tapi aku coba tersenyum. Aku ingat kata temanku.
“Lebih enak deketin orang yang sudah punya pacar.
Sainganya cuma satu” Apalagi menurutku jarang ada hubungan yang abadi. Lama
kelamaan akan kandas juga.
Meski sebagai teman, cintaku padanya tak surut
sedikitpun. Dan aku pun merasa ada yang berubah dari Arum semenjak dia
menontonku saat ngabuburit itu. Tapi perubahan itu malah lebih baik. Dia
menjadi tak cuek lagi terhadapku. Dia selalu membalas SMSku. Seolah dia juga
membutuhkanku.
Selidik aku lakukan hingga aku ketahui ternyata dia
sedang LDR. Hubungan jarak jauh dengan pacarnya yang sekarang bekerja di
Jakarta. Tapi makin hari, kekasihnya juga berubah. Menjadi jarang memberi kabar
hingga membuat Arum bersedih. Aku merasa kasihan padanya. Hingga aku hanya
dapat menghiburnya saja.
“Aku akan menemani kamu sampai kapanpun kok. Sampai kamu
tak butuh aku lagi.” Aku mengatakan itu dengan tulus dari hatiku karena aku benar-benar
mencintainya. Tapi tak sedikitpun dia memberi tanda cinta padaku.
Arum sering sedih bahkan sampai menangis ketika curhat
kepada kakak sepupunya tentang pacarnya. Benar-benar jarang bahkan seminggu
hampir tak menghubungi Arum. Aku hanya menyuruhnya bersabar. Tapi dia juga
wanita yang setia. Dia tetap saja percaya pada kekasihnya itu. Aku pun makin
sebal ketika mendengar cerita itu. Tak mungkin kalau masih sayang bisa
segitunya. Tega sekali kekasihnya itu. Aku berharap hubungan mereka hancur.
“Jahat sekali diriiku ini. Egois!” Aku marah pada diriku
sendiri. Tapi aku begitu berharap Arum bahagia. Tak apa dia sama pacarnya. Tapi
aku tak rela jika dia selalu bersedih. Aku pun berencana ingin menghibur dengan
emnonton Stand Up Comedy. Katanya dia sama temanya. Tapi malah mendadak temanya
membatalkan janjinya. Aku pun menawarkan jemputan. Dia awalnya ragu. Tapi
akhirnya mau.
Saat aku menjemputnya di gang, “Wow!” sungguh aku
terpesona melihat kecantikanya. Sayang sekali dia milik orang. Tapi aku hanya
punya niat menghiburnya saja.
Dua kali aku melakukan hal itu, yang kedua dia dimarahi
Ayahnya karena pulangnya terlalu malam. Dia dimarahi dan aku merasa sedih
karena membuatnya menerima hal itu. Dan itu terakhir kalinya aku mengajaknya
nonton Open Mic Stand Up Comedy.
Libur lebaran tiba, aku mengajaknya ke tempat yang tak
terlupakan. Dia memang masih berstatus pacaran, tapi sampai saat itu pacarnya
tak memberi kabar sama sekali. Akhirnya aku mengajaknya ke puncak. Dia mau saja
asal tidak ke pegunungan Rahtawu. Karena disitulah dulu dia pergi bersama
kekasihnya. Dia tak ingin mengingat hal itu. Aku pun menyanggupinya.
Akhirnya kami pergi ke bukit kajar. Hanya kami berdua dan
sendiri. Aku ingin sekali mendengarnya, tapi aku malu. Hingga ada bapak-bapak
usil menyuruhku menggandengnya.
“Sini, aku gandeng.” Ucapku sambil tersenyum. Dia merasa
malu, aku pun demikian. Tapi dia tak menolak. Jemarinya terasa lembut sekali.
Seperti tangan bidadari. Aku bahagia
saat itu. Dan kami pun bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari sekolah,
hingga kekasihnya sekarang.
Setelah itu kami ke air terjun montel. Katanya ada mitos
kalau orang pacaran kesana bisa putus, kalau jadian bisa langgeng, dan kalau
tidak pacaran bisa jadian. Aku ajak kesana karena aku berharap suatu hari akan
bersama dia.
Kemudian dia bercerita pernah kesini bersama seseorang
yang mereka berdua saling mencintai. Tapi akhirnya pisah tanpa sebab. Mungkin
karena mitos disini. Tapi aku tak percaya.
Hari-hari semakin berlalu. Dia masih belum diputuskan
pacarnya. Tapi masih saja tanpa kontak. Aku makin lama makin tak suka dengan
Arum. Aku merasa dipermainkan. Dia menggantungkan cintaku. Hingga akhirnya aku
benar-benar ingin menghancurkan hubungan mereka.
Aku mulai menginbox pacarnya lewat akun Facebook teman
perempuanku. Anehnya dia membalas. Padahal Arum tak dia SMS. Aku merasa kalau
pacarnya sudah tak sayang Arum. Aku mencoba memberitahu Arum, tapi dia hanya
menunggu keputusan dari kekasihnya itu. Dia memang benar-benar hebat. Bahkan
kalau aku di posisinya aku tak akan setegar itu. Teman-temanku bilang, kalau
dia setia sama pacarnya, dia pasti setia sama aku suatu saat nanti. Aku hanya
bisa bilang “Amin.”
Dia sudah tau aku mencintainya. Tapi tak sedikitpun dia
memberi tanda kepadaku. Dia tak menerimaku, juga tak menolakku. Seolah dia
membutuhkanku hanya sebagai teman kalau butuh. Dia juga tak bilang ingin
bersamaku kalau sudah putus. Karena tak ada jawaban, aku memilih menjauhinya
untuk selamanya. Mungkin ini akibat mitos di Montel itu. Tapi entah kenapa
belum 3 hari aku sudah merindukanya. Aku ingin membuktikan kalau mitos itu
salah. Aku minta maaf ke dia dan dia juga bilang dia rindu aku. Hingga akhirnya
dia memutuskan pacarnya itu. Tapi sungguh disayangkan karena tak ada tolakan
sedikitpun dari pacarnya. Hingga akhirnya mereka putus. Aku pun kembali
menginbox pacarnya itu, dan yang lebih membuatku marah, dia bilang kalau
ternyata sudah bosan dengan Arum.
Saat dia putus, aku tak diberi tahu dia. Seolah dia juga
tak ingin pacaran denganku. Hingga aku mengajukan pertanyaan rahasia melalui
“Ask.FM”. Memang susah mendapat jawaban yang aku inginkan. Tapi aku tak
terburu-buru. Aku tak sepenuhnya berpikir bagaimana mendapatkanya. Yang
terpenting adalah bagaimana aku membuatnya bahagia.
Aku pernah berjanji padanya untuk tak mencintainya supaya
kita tak saling tersakiti. Tapi karena sudah putus, aku bertanya apakah aku
boleh mencintainya lagi? Ternyata dia membolehkan dan akhirnya kami jadian.
Selain hari pahlawan, 10 November adalah hari keberhasilanku mendapatkan
cintanya. Tinggal bagaimana aku membuat bidadariku bahagia.
***
Sudah hampir 2 bulan aku jalani hubungan dengan penuh kasih
sayang. Makin hari aku makin sayang denganya. Dia juga sangat tulus. Meskipun
dulu tak pernah memberi tanda sedikitpun kepadaku, ternyata cinta dan kasihnya
lebih daari yang aku harapkan.
Sementara itu, karirku sebagai comic telah redup. Banyak
yang berubah dariku. Hingga akhirnya aku keluar dari komunitas yang sempat aku
pimpin meski dengan penuh kekuranganku. Tepat 5 Januari 2014 inilah aku close
mic dari dunia comedy dan beralih hoby menulis cerpen.
Sementara itu, sekarang hampir mendekati milad sayangku
Arum Kamila. Aku tak tau harus melakukan apa atau memberi apa supaya dia
bahagia. Sempat saat aku ziarah ke makan Sunan Kudus, aku mengobrol dengan
Wildan temanku.
“Wil, dia mau ulang tahun. Enaknya kasih apa?”
“Ya kasih sesuatu yang tak pernah dia lupakan dong.”
“Apa misalnya.”
“Seperti bayi” Aku tertawa di pinggir jalan mendengar
jawaban ngawur itu. Maklum saja lucu. Dia juga comic di komunitas SUCIKU. Dalam
keadaan bingung, aku masih tak tahu akan memberi dia kejutan apa. Hingga
kemudian kulihat tanggal 15 Januari. Ternyata tak bisa kuberi kejutan hari itu.
Satu-satunya adalah tanggal 14 januari karena bertepatan Maulid Nabi.
Aku bersyukur sekali dan kumulai membuat rencana. Aku
ingin mengajaknya ke Taman Kajar lagi. Tempat dimana dulu aku berdua denganya.
Namun kali ini aku membutuhkan temanku. Dan
semoga saja rencanaku semua berhasil.
***
Aku bahagia menjadi diriku sekarang. Aku pernah berharap
waktu dapat diulang kembali. Tapi ketika waktu tetap dijalani, justru akan
mendapat hal yang lebih baik. Aku percaya semua akan indah pada waktunya.
Meskipun pahit harus kita rasakan terlebih dahulu.
Aku pernah membenci mantan. Tapi tanpa mantan, aku tak
akan mendapat cinta kasih setulus sekarang. Aku pernah tersakiti, dia pun
begitu. Dan aku percaya obat sakit hati adalah mencintai orang yang pernah
tersakiti hatinya juga. Orang pernah bilang, cinta pertama susah dilupakan.
Tapi aku percaya cinta pertama dapat dikalahkan oleh cinta sejati.
Tanpa mantan, aku tak akan punya keinginan menjadi comic
dan tak akan mungkin aku kenal Arum. Dan Arum pun bangga aku menjadi seorang
comic. Tapi maaf aku harus mengecewakanya. Aku tak bangga menjadi comic. Tak
bangga juga jadi penulis. Tapi aku bangga ketika jadi satu-satunya orang yang
dapat membuatmu bahagia.
Dari hati yang tersakiti, itulah langkah agar aku menjadi lebih dewasa. Di hari ulang tahunmu, aku berharap semua menjadi lebih indah. Aku juga berharap kamu menjadi lebih dewasa. Aku juga berharap hubungan kita abadi sampai maut memisahkan kita. Maaf aku tak bisa memberimu sesuatu yang indah. Sesuatu yang tak kau inginkan dan mungkin tak berguna bagimu. Tapi aku harap kenangan ini abadi dan akan ada cerita selanjutnya. Happy Birthday’s Arum Kamila.
Dari hati yang tersakiti, itulah langkah agar aku menjadi lebih dewasa. Di hari ulang tahunmu, aku berharap semua menjadi lebih indah. Aku juga berharap kamu menjadi lebih dewasa. Aku juga berharap hubungan kita abadi sampai maut memisahkan kita. Maaf aku tak bisa memberimu sesuatu yang indah. Sesuatu yang tak kau inginkan dan mungkin tak berguna bagimu. Tapi aku harap kenangan ini abadi dan akan ada cerita selanjutnya. Happy Birthday’s Arum Kamila.

No comments:
Post a Comment